MANADO – Sejarah tercipta di Graha Gubernuran Bumi Beringin, Minggu (22/2/2026). Untuk pertama kalinya dalam 26 tahun terakhir, seorang Gubernur Sulawesi Utara hadir langsung dalam Perayaan Imlek yang digelar umat Konghucu.
Adalah , Gubernur Sulawesi Utara, yang menghadiri Perayaan Imlek 2577 Kongzili bersama umat Konghucu Sulut. Kehadiran tersebut disambut antusias dan penuh haru oleh para tokoh serta umat yang memadati lokasi kegiatan.
“Sejak 26 tahun lalu, ini pertama kalinya seorang Gubernur Sulut hadir di perayaan Imlek oleh umat Konghucu,” tegas Makin Manado, Heintje Lintong, dalam sambutannya yang langsung disambut tepuk tangan panjang.
Momentum ini bukan sekadar seremoni. Ini adalah pesan kuat bahwa pemerintah provinsi hadir tanpa sekat. Bahwa umat Konghucu adalah bagian sah dan utuh dari Bumi Nyiur Melambai.
Dalam pidatonya, Gubernur Yulius menegaskan pentingnya menjaga kerukunan yang selama ini menjadi kebanggaan Sulut.
“Kita pernah nomor satu dalam kerukunan umat beragama. Banyak yang iri dan ingin memecah belah. Jangan beri ruang. Mari kita jaga Sulut tetap rukun dan damai,” tegasnya.
Pernyataan itu menjadi pengingat keras di tengah dinamika bangsa yang kerap diuji isu perbedaan. Sulawesi Utara kembali menegaskan identitasnya sebagai daerah toleran, harmonis, dan solid dalam keberagaman.
Perayaan Imlek 2577 Kongzili di Graha Gubernuran kali ini bukan hanya tentang tradisi dan budaya. Ia menjadi simbol rekonsiliasi sosial, penguatan persatuan, serta babak baru kebersamaan antarumat beragama di Sulawesi Utara.
Sulut bukan hanya beragam.
Sulut adalah rumah besar bagi semua.


