Dalam diskusi tersebut di salah satu lokasi rumah Kopi Megamal, Angga menekankan pentingnya kolaborasi antara pemerintah pusat, daerah, dan pelaku usaha dalam menjawab tingginya permintaan (demand) perumahan, khususnya rumah subsidi. Menurutnya, peluang pasar masih sangat besar jika mampu diimbangi dengan suplai yang tepat.
Ketua APERSI Sulut Ibu Soeprapti bersama Bunda Dora turut mengapresiasi kemudahan perizinan yang kini semakin cepat dan tidak berbelit. Hal ini dinilai menjadi angin segar bagi para developer untuk lebih agresif mengembangkan proyek perumahan.
Namun menariknya, Angga justru menyoroti bahwa tantangan terbesar bukan pada penjualan, melainkan menjaga minat konsumen.
“Jualan itu mudah, yang penting jangan sampai konsumen bilang ‘nanti dulu’. Yang utama adalah bagaimana menarik mereka datang dulu,” ungkapnya.
Ia membagikan pengalaman unik, di mana iklan perumahan yang dibuka hanya dalam dua hari mampu menarik hingga 600 calon pembeli untuk datang langsung ke lokasi. Strategi utamanya sederhana buat konten yang disukai masyarakat, lalu viralkan untuk mengumpulkan minat.
Sebagai owner Perumahan Pesona Kairupan, Angga bahkan mengaku mampu menjual hingga 2.000 unit rumah hanya dalam waktu lima bulan. Kunci suksesnya terletak pada kekuatan tim, termasuk sekitar 400 tenaga marketing serta tim kreator konten yang aktif membangun komunikasi dengan calon konsumen melalui media sosial.
Menurutnya, developer masa kini wajib menguasai semua aspek bisnis dari A sampai Z, mulai dari pemasaran hingga pelayanan. Selain harga yang terjangkau dan kualitas bangunan, faktor lokasi juga menjadi penentu.
“Rumah di pinggir kota sekarang justru jadi pilihan karena dekat keramaian dan aksesnya jelas sesuai lingkungan pembeli,” jelasnya.
Tak kalah penting, hubungan harmonis dengan pihak perbankan juga menjadi kunci keberhasilan. Angga menegaskan bahwa developer harus menjaga loyalitas dan kelengkapan administrasi, termasuk pengisian dokumen seperti “form biru” untuk meningkatkan skor penilaian agar pengajuan kredit tidak ditolak.
Diskusi ini pun ditutup dengan sesi sharing berbagai tantangan di lapangan beserta solusi praktisnya. Harapannya, sinergi antara developer, pemerintah, dan perbankan dapat terus diperkuat demi mendorong pertumbuhan sektor perumahan di Sulawesi Utara.
Dengan strategi kreatif, kolaborasi kuat, dan pemahaman pasar yang tepat, mimpi memiliki rumah bagi masyarakat bukan lagi sekadar wacana.



