Iklan

Iklan

Iklan

Iklan
Tahun Baru Imlek

Iklan

Tak Mau Dikasi­hani: Kisah Difabel Penambal Ban yang Tangguh Mengangsur Rumah Subsidi dari Keringat Sendiri

Swara Manado News
Rabu, 01 April 2026, 16:51 WIB Last Updated 2026-04-01T10:47:56Z



Minut - Di sebuah sudut jalan raya Manado -Bitung Kolongan Kecamatan Kalawat Kabupaten Minahasa Utara, suara desis angin dari ban bocor yang ditambal menjadi saksi perjuangan hidup seorang pria difabel bernama Fredy Jatmiko S.Ag. Di balik keterbatasan fisik akibat polio, tersimpan tekad yang tak pernah padam untuk menghidupi keluarga sekaligus meraih impian sederhana: memiliki rumah layak.


Fredy, 51 tahun, bukanlah sosok yang ingin dikasihani. Baginya, hidup adalah tentang tanggung jawab dan kerja keras. Sehari-hari, ia mengandalkan keahlian menambal ban motor dan mobil, bahkan sesekali menerima jasa reparasi kendaraan ringan. Penghasilannya memang tidak menentu tergantung jumlah pelanggan yang datang namun semangatnya tetap konsisten: bekerja, menabung, dan membayar angsuran rumah.


“Prinsip saya sederhana, tetap berjuang dan tidak mau minta bantuan siapa pun,” ujarnya dengan nada tegas namun hangat.


Empat tahun lalu, peluang itu datang. Dengan dukungan kebijakan perumahan subsidi, Fredy memberanikan diri mengajukan kredit rumah. Ia mengaku sangat bersyukur atas kebijakan yang diberikan oleh Ibu Soeprapti, yang membuka jalan bagi dirinya untuk memiliki rumah sederhana.


Sejak saat itu, Fredy rutin mengangsur sekitar dua jutaan rupiah setiap bulan. Meski penghasilannya fluktuatif dan sulit diprediksi di tengah kondisi ekonomi yang tidak menentu, ia tak pernah sekalipun menunggak pembayaran.


“Semua berkat Allah. Selama masih ada kesempatan bekerja, pasti ada rezeki untuk bayar angsuran,” katanya penuh keyakinan.


Lulusan kampus AIAN tahun 2003 ini juga menegaskan bahwa keterbatasan bukan alasan untuk menyerah. Ia justru menjadikan kondisinya sebagai pengingat untuk terus bersyukur dan berjuang. Terlahir sebagai satu dari lima bersaudara tiga di antaranya berprofesi sebagai anggota kepolisian, Fredy memilih jalannya sendiri: mandiri dengan segala keterbatasan.


“Jangan salahkan siapa-siapa. Semua sudah takdir Allah. Kita jalani saja dengan syukur dan berusaha,” tuturnya.


Fredy juga menyuarakan harapan kepada pemerintah dan pihak terkait agar tidak mempersulit kaum difabel dalam mengakses kredit rumah subsidi. Menurutnya, banyak difabel yang sebenarnya mampu dan bertanggung jawab, asalkan diberi kesempatan yang adil.


Ia pun menitipkan pesan bagi sesama difabel di luar sana, jangan pernah putus asa.


“Semangat berjuang, jalani hidup dengan ikhlas, dan jangan lupa berdoa. Kita tetap bisa berjalan di jalan yang lurus meski dengan segala kekurangan,” ucapnya.


Kisah Fredy adalah potret keteguhan hati. Di tengah keterbatasan, ia membuktikan bahwa kerja keras, niat, dan tanggung jawab mampu mengalahkan segala rintangan tanpa harus meminta belas kasihan dari siapa pun.

Komentar
Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE. #JernihBerkomentar
  • Tak Mau Dikasi­hani: Kisah Difabel Penambal Ban yang Tangguh Mengangsur Rumah Subsidi dari Keringat Sendiri

Terkini

Iklan