Iklan

“Tanah Maesa Bergemuruh Lagi”: YSK Hidupkan Kembali Marwah Pacuan Kuda Tompaso

Swara Manado News
Minggu, 07 Juni 2026, 09:32 WIB Last Updated 2026-06-07T01:32:38Z


Minahasa - Derap kaki kuda kembali memecah sunyi Arena Pacuan Kuda Maesa Tompaso, Sabtu (6/6/2026). Setelah bertahun-tahun hanya menjadi saksi bisu kejayaan masa lalu, arena legendaris di Minahasa itu kembali hidup bersama semangat baru kebangkitan olahraga berkuda di Sulawesi Utara.


Kejuaraan Pacuan Kuda Piala Gubernur Sulut 2026 bukan sekadar agenda olahraga. Bagi masyarakat Tompaso dan para pecinta pacuan kuda, momentum itu terasa seperti titik balik lahirnya kembali tradisi yang nyaris hilang ditelan zaman.


Di lintasan yang dahulu pernah melahirkan rivalitas sehat, persahabatan lintas kampung, hingga kuda-kuda terbaik Sulut di level nasional, kini masyarakat kembali memadati tribun dengan harapan baru.


Pacuan kuda bagi masyarakat Minahasa bukan hanya olahraga hiburan. Ia adalah warisan sejarah dan bagian dari identitas budaya yang telah hidup sejak era kolonial Belanda.


Namun dalam beberapa tahun terakhir, olahraga berkuda perlahan kehilangan denyutnya. Arena Maesa sempat redup, tribun sepi, dan generasi muda mulai asing dengan tradisi yang pernah menjadi kebanggaan masyarakat “Bumi Nyiur Melambai”.


Kondisi itu berubah ketika Gubernur Sulawesi Utara, , hadir langsung membuka Kejuaraan Pacuan Kuda Piala Gubernur Sulut 2026.


Kehadiran YSK sapaan akrab gubernur  dinilai bukan sekadar seremoni kepala daerah membuka lomba. Di mata masyarakat Tompaso, ia datang membawa pesan bahwa olahraga berkuda tidak boleh dibiarkan mati.


Dalam sambutannya, YSK menegaskan komitmen Pemerintah Provinsi Sulut untuk membangkitkan kembali kejayaan olahraga berkuda melalui penataan Arena Maesa, peningkatan fasilitas, hingga rencana pembangunan lapangan polo di kawasan tersebut.


Ia bahkan menargetkan Tompaso menjadi salah satu sentra olahraga berkuda nasional di masa mendatang.


“Daerah yang besar bukan hanya dibangun lewat infrastruktur dan investasi, tetapi juga dengan menjaga budaya, tradisi, dan identitas masyarakatnya,” pesan YSK di hadapan para peternak, joki, pemilik kuda, dan ribuan warga yang hadir.


Pernyataan itu disambut antusias masyarakat yang selama ini merasa olahraga berkuda kehilangan perhatian.


“Sudah lama masyarakat menunggu pemimpin yang mau membangkitkan kembali marwah olahraga berkuda yang hampir mati. Dan akhirnya Pak YSK datang menjawab doa-doa itu,” ujar Charles, warga Tompaso.


Hal senada disampaikan Mexi, warga lainnya, yang menyebut kebangkitan pacuan kuda di Tompaso sebagai momentum bersejarah bagi Sulut.


“Kembali memiliki arah. Lahir kembali setelah sekian lama mati. Putra berdarah Minahasa ini menghidupkannya kembali,” katanya.


Atmosfer haru terlihat jelas di sepanjang arena. Wajah-wajah tua yang pernah menyaksikan masa emas pacuan kuda Sulut tampak tersenyum melihat lintasan kembali hidup. Sementara generasi muda mulai mengenal kembali warisan olahraga daerah yang nyaris terlupakan.


Derap kuda yang terdengar di Arena Maesa hari itu bukan sekadar suara perlombaan. Ia menjadi simbol kebangkitan tradisi, simbol bahwa sejarah belum selesai ditulis.


Momentum kebangkitan itu semakin diperkuat dengan terpilihnya sebagai Ketua Pengprov Pordasi Sulut periode 2026–2031.


Dengan dukungan pemerintah daerah dan komunitas berkuda yang tetap bertahan di tengah keterbatasan, optimisme baru kini tumbuh di Sulawesi Utara.


Tompaso perlahan kembali menata dirinya sebagai rumah bagi olahraga berkuda.


Dan masyarakat Sulut percaya, dari tanah Maesa yang kembali bergemuruh itulah sejarah baru sedang ditulis  tentang tradisi yang berhasil diselamatkan, tentang identitas daerah yang kembali dibangkitkan, dan tentang kepemimpinan yang memilih untuk tidak membiarkan warisan rakyatnya hilang begitu saja.

Komentar
Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE. #JernihBerkomentar
  • “Tanah Maesa Bergemuruh Lagi”: YSK Hidupkan Kembali Marwah Pacuan Kuda Tompaso

Terkini

Iklan