Postingan Populer

Total Tayangan Halaman

Iklan

Rona Budaya Pekan Ketiga Angkat Kekayaan BMR, Gubernur YSK: Budaya Harus Hidup di Tengah Generasi Muda

Swara Manado News
Senin, 21 September 2026, 12:14 WIB Last Updated 2026-09-21T04:15:12Z


MANADO
– Pemerintah Provinsi Sulawesi Utara kembali menggelar Rona Budaya Sulawesi Utara. Memasuki pekan ketiga, agenda kebudayaan ini mengangkat tema “Budaya Adampe Dolot” dengan menampilkan kekayaan budaya Bolaang Mongondow Raya (BMR).


Kegiatan yang berlangsung di Museum Negeri Sulawesi Utara, Sabtu (19/9/2026), menjadi ruang untuk memperkenalkan kembali sejarah, kearifan lokal, kesenian, nilai kehidupan, serta keteladanan yang diwariskan para pendahulu kepada generasi masa kini.


Gubernur Sulawesi Utara Mayjen TNI (Purn) Yulius Selvanus SE memberikan apresiasi kepada seluruh pihak yang telah mendukung pelaksanaan Rona Budaya sejak Pekan Pertama, Pekan Bataha Santiago, Pekan Kedua, Pekan Maria Walanda Maramis, hingga Pekan Ketiga yang mengangkat budaya BMR.


Menurut Yulius, Rona Budaya bukan sekadar agenda pertunjukan seni, tetapi bagian dari upaya merayakan warisan budaya, merawat keberagaman sekaligus memperkuat identitas daerah.


“Merayakan Warisan Budaya, Merawat Keberagaman, Menguatkan Identitas,” menjadi semangat utama pelaksanaan Rona Budaya Sulawesi Utara.


Gubernur menegaskan, kekayaan budaya Bolaang Mongondow Raya tidak sebatas tari-tarian, musik, pakaian adat, kuliner, kerajinan maupun bentuk kesenian lainnya.


Di balik seluruh warisan tersebut terdapat sejarah, nilai kehidupan, semangat kebersamaan dan kearifan lokal yang diwariskan dari generasi ke generasi.


“Karena itu, menjaga budaya bukan hanya menjaga bentuk luarnya, tetapi juga menjaga nilai dan makna yang terkandung di dalamnya,” ujar Yulius.


Bolaang Mongondow Raya, kata Gubernur, memiliki kekayaan budaya yang menjadi bagian penting dari identitas Sulawesi Utara.


Sejumlah kesenian seperti Tari Dangisa, Dana-Dana Tradisional, Tari Giomu, Tari Tuitan dan Tari Kabela disebut sebagai bagian dari warisan budaya yang perlu terus dikenalkan, dilestarikan dan dikembangkan.


Yulius menekankan agar budaya daerah tidak hanya muncul ketika ada kegiatan seremonial atau pertunjukan.


Budaya, menurutnya, harus benar-benar hidup di tengah masyarakat dan dipahami oleh generasi penerus.


“Jangan sampai generasi muda lebih mengenal budaya dari luar daripada mengenal budaya yang lahir dan tumbuh dari tanah tempat mereka berpijak,” tegasnya.


Pemilihan nama Adampe Dolot dalam Pekan Ketiga Rona Budaya juga memiliki makna tersendiri.


Momentum tersebut tidak hanya diarahkan untuk mengenang seorang tokoh, tetapi juga menghidupkan kembali nilai perjuangan dan keteladanan yang dinilai relevan bagi generasi sekarang.


Semangat Adampe Dolot diharapkan dapat menjadi inspirasi dalam membangun masyarakat melalui pendidikan, pemberdayaan serta kepedulian terhadap kehidupan sosial.


“Sejarah dan keteladanan para pendahulu tidak boleh berhenti sebagai cerita masa lalu, tetapi menjadi inspirasi untuk membangun masa depan,” kata Gubernur.


Ia juga menegaskan bahwa pelestarian budaya bukan hanya menjadi tugas pemerintah.


Keluarga, sekolah, komunitas, sanggar seni, tokoh adat, tokoh masyarakat, seniman, budayawan hingga generasi muda memiliki peran penting dalam menjaga keberlangsungan budaya.


“Budaya tidak akan hidup hanya karena dipentaskan. Budaya akan hidup apabila dipraktikkan, dihargai dan diwariskan,” ujarnya.


Melalui Pekan Adampe Dolot, Pemprov Sulut berharap kecintaan terhadap budaya Bolaang Mongondow Raya semakin tumbuh, nilai-nilai budaya tetap terjaga, sementara bentuk-bentuk kebudayaan dapat terus dikembangkan mengikuti perkembangan zaman tanpa kehilangan akar sejarahnya.


Gubernur kemudian mengajak seluruh elemen masyarakat menjadikan budaya sebagai bagian dari semangat pembangunan daerah.


“Melalui budaya dan semangat kebersamaan, mari kita terus bergerak bersama membangun daerah, mewujudkan Sulawesi Utara Maju, Sejahtera dan Berkelanjutan,” pungkasnya.


Pekan Adampe Dolot ditutup dengan pesan untuk terus merayakan warisan budaya dengan bangga, merawat keberagaman dengan kasih, serta menguatkan identitas daerah melalui karya.

Mototompiaan, Mototabian, bo Mototanoban.

👁️ Dilihat: hitwebcounter.com/
Komentar
Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE. #JernihBerkomentar
  • Rona Budaya Pekan Ketiga Angkat Kekayaan BMR, Gubernur YSK: Budaya Harus Hidup di Tengah Generasi Muda

Terkini

Iklan