Postingan Populer

Total Tayangan Halaman

Iklan

Kualitas Udara Manado Menurun, DLH Soroti Asap Karhutla dan Debu Musim Kemarau

Swara Manado News
Selasa, 06 Oktober 2026, 20:58 WIB Last Updated 2026-10-06T12:58:56Z


MANADO —
Kualitas udara di Kota Manado mulai mengalami penurunan. Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Manado mendeteksi kondisi tersebut dipengaruhi paparan asap kebakaran hutan dan lahan (Karhutla), meningkatnya intensitas debu selama musim kemarau, serta polutan kendaraan bermotor.


Kondisi ini mulai terdeteksi sejak memasuki puncak musim kemarau pada Agustus hingga akhir September 2026. Paparan asap bahkan disebut semakin terasa seiring meningkatnya kejadian Karhutla di sejumlah wilayah.


Kepala Bidang Pengendalian, Pencemaran dan Kerusakan Lingkungan DLH Kota Manado, Leon Piri, mengatakan asap Karhutla menjadi salah satu faktor yang berpengaruh terhadap kualitas udara di Kota Manado.


“Imbas semakin maraknya kejadian Karhutla, menyebabkan paparan asap di ruang udara Kota Manado semakin pekat,” ujar Leon saat ditemui, Selasa (6/10/2026).


Menurutnya, penurunan kualitas udara tidak hanya dipicu asap kebakaran hutan dan lahan. Kondisi musim kemarau dengan angin yang cukup kencang turut meningkatkan penyebaran debu dan berbagai partikel di udara.


“Asap-asap yang dihasilkan ini berpengaruh. Tentu kualitas udara dia akan menurun ketika ada kebakaran hutan dan lahan, ada partikel-partikel debu, polutan yang masih tertinggal di atas,” jelasnya.

DLH Lakukan Pemantauan di Sejumlah Titik

Untuk mengetahui kondisi kualitas udara, DLH Kota Manado melakukan pemantauan dengan mengambil sampel dari sejumlah lokasi dan sektor aktivitas masyarakat.


Sampel tersebut mencakup kawasan industri, perkantoran, transportasi hingga pemukiman.


Leon menjelaskan, hasil pengukuran pada semester pertama 2026 masih berada di bawah baku mutu. Namun, kondisi udara pada periode puncak kemarau perlu menjadi perhatian karena terdapat tambahan paparan dari asap, debu maupun aktivitas pembakaran.


“Sampelnya kita ambil dari industri, perkantoran, transportasi, dan pemukiman. Di semester pertama, hasil pengukuran masih di bawah baku mutu,” ujarnya.


Selain faktor eksternal seperti asap Karhutla, DLH juga menyoroti aktivitas masyarakat yang berpotensi memperburuk kualitas udara.


Salah satunya adalah kebiasaan membakar sampah secara terbuka serta pembukaan lahan dengan cara membakar.


Warga Diminta Kurangi Aktivitas Pembakaran

DLH mengimbau masyarakat tidak melakukan pembakaran sampah maupun pembakaran lahan secara sembarangan. Aktivitas tersebut dinilai dapat menambah konsentrasi asap dan partikel pencemar di udara, terutama ketika kondisi kemarau membuat udara lebih kering dan berdebu.


“Kami imbau masyarakat tidak membakar sampah sembarangan, apalagi membakar untuk membuka lahan. Karena tentu kegiatan-kegiatan ini akan berpengaruh pada kualitas udara di kota yang kita cintai bersama ini,” kata Leon.


Di tengah kondisi tersebut, masyarakat yang beraktivitas di luar ruangan juga diimbau menggunakan masker sebagai langkah untuk mengurangi paparan asap, debu dan polutan.


Penurunan kualitas udara ini menjadi perhatian tersendiri bagi Kota Manado, terlebih ketika musim kemarau masih berlangsung dan awal musim hujan di Sulawesi Utara diperkirakan baru memasuki November.


DLH pun mengingatkan bahwa menjaga kualitas udara bukan hanya menjadi tanggung jawab pemerintah, tetapi membutuhkan kesadaran masyarakat untuk mengurangi sumber pencemaran dari lingkungan sekitar.

๐Ÿ‘️ Dilihat: hitwebcounter.com/
Komentar
Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE. #JernihBerkomentar
  • Kualitas Udara Manado Menurun, DLH Soroti Asap Karhutla dan Debu Musim Kemarau

Terkini

Iklan