Manado - Senyum-senyum kecil itu terlihat paling tulus. Di antara keriput yang menceritakan perjalanan panjang hidup, para orang tua dari Minahasa Utara, Bitung, dan Tomohon duduk rapi mengenakan toga simbol yang biasanya akrab dengan anak muda, kini melekat hangat di bahu generasi yang telah melewati banyak musim.
Aula Mapalus, Kantor Gubernur Sulut, Jumat (28/11/2025), menjadi saksi bahwa belajar tidak pernah mengenal usia. Sebanyak 108 wisudawan Sekolah Lansia berdiri dengan bangga, sebagian menahan haru, sebagian lagi tertawa kecil saat kamera-kamera mengabadikan momen langka itu.
Namun, di balik seremoni dan tepuk tangan, ada satu hal yang membuat wisuda ini berbeda: pesan-pesan hidup yang disampaikan Wakil Gubernur Sulawesi Utara, Victor Mailangkay, yang terasa bukan sekadar protokol acara, tetapi seperti nasihat hangat seorang anak kepada orang tuanya.
“Umur adalah pemberian, tapi bahagia adalah pilihan.”
Kalimat itu meluncur ringan, tetapi banyak wisudawan yang mengangguk pelan—seolah menemukan kembali ruang untuk merasa bebas menentukan kebahagiaan mereka sendiri.
Wagub menekankan pentingnya menjaga kesehatan fisik dan mental. Di usia yang tak lagi muda, banyak dari mereka justru ingin kembali aktif, bergerak, dan merasa berguna. Sekolah Lansia memberi mereka wadah untuk itu.
Satu pesan yang paling menyentuh: tetap sosial.
Tidak sedikit lansia yang harus berhadapan dengan kesepian. Lewat komunitas dan pertemanan baru, mereka kembali menemukan tawa dan cerita.
Mailangkay mengajak para orang tua memperdalam dimensi spiritual bukan sekadar ritual, tetapi sebagai cara menemukan makna dan ketenangan yang lebih dalam.
Ia mengingatkan bahwa rumah, lingkungan, dan komunitas harus menjadi tempat yang aman, nyaman, dan penuh penerimaan. Di masa yang sering kali mengabaikan mereka, pesan ini terasa penting.
Dari teknologi hingga keterampilan baru, para wisudawan didorong untuk terus belajar. Beberapa dari mereka bahkan antusias menceritakan bagaimana mereka kini bisa menggunakan ponsel untuk video call dengan cucu.
Di penghujung acara, saat toga-toga hitam itu bergerak pelan meninggalkan Aula Mapalus, satu hal menjadi jelas: ini bukan hanya wisuda. Ini adalah perayaan martabat, perayaan hidup, dan perayaan bahwa usia bukan batas untuk bermimpi.
Di tengah keriput yang mulai menua, semangat justru tumbuh kembali.
Dan mungkin, itulah inti dari Sekolah Lansia membuktikan bahwa setiap fase hidup selalu punya cerita baru.


