Iklan

Iklan

Bentengi Siswa dari Radikalisme Digital, Kepsek SMA Negeri 1 Manado Perketat Pengawasan Medsos

Swara Manado News
Selasa, 27 Januari 2026, 21:39 WIB Last Updated 2026-01-27T13:39:24Z


Manado
– Ancaman penyebaran paham-paham ekstrem melalui media sosial menjadi perhatian serius manajemen SMA Negeri 1 Manado. Pihak sekolah memperketat pengawasan aktivitas digital siswa sebagai langkah pencegahan dini terhadap masuknya ideologi berbahaya yang dapat merusak masa depan generasi muda.


Kepala SMA Negeri 1 Manado, Jemmy Jermias, S.Pd., M.Pd, menegaskan bahwa sekolah mengambil peran aktif dalam memantau perilaku siswa di ruang digital. Menurutnya, media sosial kerap menjadi pintu masuk penyebaran paham ekstrem, termasuk kelompok yang mengajarkan kekerasan dan kebencian seperti Neo Nazi.


“Kelompok-kelompok ini biasanya menyasar anak-anak yang rentan, seperti korban perundungan atau siswa dari keluarga broken home,” ujar Jemmy, Selasa (27/01/26).


Ia menjelaskan, pihak sekolah secara aktif memonitor unggahan siswa di media sosial. Jika ditemukan konten yang mencurigakan, sekolah akan melakukan pendekatan persuasif dan pembinaan secara langsung.


“Kami perhatikan postingan mereka. Kalau ada yang mencurigakan, kami dekati secara baik-baik dan kami tegur. Ini bukan pembatasan, tapi perlindungan,” tegasnya.


Apabila ditemukan indikasi yang lebih mengkhawatirkan, sekolah akan segera berkoordinasi dengan orang tua guna melakukan pendampingan bersama.


“Keberadaan siswa di sekolah adalah tanggung jawab kami. Karena itu, perkembangan mereka, termasuk di ruang digital, terus kami pantau,” katanya.


Jemmy mengakui, tidak semua platform media sosial mudah diawasi. Aplikasi pesan dengan tingkat kerahasiaan tinggi seperti Telegram menjadi tantangan tersendiri. Meski demikian, sekolah tetap mengedepankan deteksi dini dengan melibatkan guru, wali kelas, dan tenaga pendamping.


“Kalau ada indikasi keanehan, kami libatkan wali kelas dan guru pendamping. Pendekatannya edukatif, bukan menghakimi,” jelasnya.


Sebagai langkah pencegahan jangka panjang, SMA Negeri 1 Manado juga memperkuat pembinaan karakter dan moderasi beragama melalui kegiatan kerohanian rutin sesuai agama dan keyakinan siswa. Sekolah membentuk organisasi keagamaan, melaksanakan bina rohani, serta kegiatan lintas agama untuk menanamkan nilai toleransi dan saling menghargai.


Selain itu, sekolah rutin menggelar dialog lintas agama dan berencana menghadirkan tokoh-tokoh lintas agama dari lembaga seperti BAMAG dan BKSAUA guna memberikan pemahaman kebangsaan dan nilai persatuan kepada siswa.


“Pendidikan tidak hanya soal akademik, tapi juga karakter, sikap, dan nilai,” ujar Jemmy.


Ia juga menekankan pentingnya peran orang tua dalam mengawasi anak, khususnya di era digital.


“Jangan berharap sepenuhnya kepada sekolah. Harus ada sinergi antara orang tua, siswa, dan sekolah. Perhatikan pergaulan anak, jangan dibiarkan keluyuran sampai dini hari, dan awasi aktivitas mereka di dunia digital,” pesannya.


Melalui langkah-langkah tersebut, SMA Negeri 1 Manado berharap dapat menjadi benteng kuat dalam melindungi siswa dari pengaruh negatif media sosial serta membentuk generasi muda yang berkarakter, toleran, dan berwawasan kebangsaan.

Komentar
Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE. #JernihBerkomentar
  • Bentengi Siswa dari Radikalisme Digital, Kepsek SMA Negeri 1 Manado Perketat Pengawasan Medsos

Terkini

Iklan