“Perkembangan industri jangan sampai membuat kita abai terhadap kelestarian lingkungan,” tegas Gubernur Yulius Selvanus, Sabtu (10/01/2026).
Pernyataan keras ini disampaikan bertepatan dengan Hari Gerakan Satu Juta Pohon, yang dijadikan momentum untuk memperkuat komitmen Pemprov Sulut dalam menggiatkan penanaman pohon dengan melibatkan berbagai stakeholder, mulai dari pemerintah, swasta, hingga masyarakat luas.
Langkah tersebut bukan tanpa alasan. Yulius membeberkan data Global Forest Watch (GFW) yang menyebutkan Sulawesi Utara telah kehilangan sekitar 45 ribu hektare hutan primer basah sepanjang 2002–2024. Deforestasi itu dipicu oleh alih fungsi lahan, perambahan, aktivitas pertambangan, serta ekspansi perkebunan.
“Kondisi ini menjadi alarm serius. Pola pembangunan harus ditata ulang dengan kebijakan hijau,” ujar Yulius.
Menurutnya, penghijauan bukan sekadar seremoni, melainkan bagian dari strategi pembangunan berkelanjutan. Pohon memiliki peran vital dalam menyerap karbon dioksida, menjaga keseimbangan ekosistem, mencegah erosi, serta meningkatkan kualitas udara.
Gubernur Yulius juga menegaskan Gerakan Satu Juta Pohon harus terus digelorakan melalui aksi nyata yang melibatkan pelajar, komunitas, hingga seluruh jajaran instansi pemerintah. Ia meminta aparatur Pemprov Sulut menjadi contoh dan motor penggerak pelestarian lingkungan.
“Ini bukan hanya soal hari peringatan. Menjaga bumi adalah tanggung jawab bersama, sekarang dan ke depan,” pungkasnya.
Dengan sikap tegas ini, Pemprov Sulut mengirim pesan jelas: pembangunan boleh berjalan, tapi alam harus tetap dilindungi.


