Ambon – Tokoh muda nasional asal Indonesia Timur sekaligus Ketua Umum DPP Front Pemuda Muslim Maluku (FPMM), Haji Umar Kei Ohoitenan, S.H, menginisiasi langkah rekonsiliasi pasca-pertikaian antar kelompok pemuda Kailolo, Kepulauan Kei, dan Seram Bagian Timur (SBT). Inisiatif ini menjadi titik balik penting dalam merawat kembali persaudaraan orang Maluku yang sempat terkoyak.
Rekonsiliasi dikemas dalam dialog bertajuk “Duduk Bacarita Meretas Jalan Menuju Perdamaian”, yang berlangsung selama dua hari, masing-masing di Hotel Premier Ambon, Jumat (16/1/2025) dan Negeri Kailolo, Pulau Haruku, Sabtu (17/1/2026). Kegiatan ini dihadiri tokoh pemuda lintas wilayah, tokoh agama, Raja Negeri Kailolo, serta para raja dari Kepulauan Kei dan Seram Bagian Timur.
Kehadiran para raja dan sesepuh adat di tengah-tengah pemuda menjadi simbol kuat kembalinya nilai hidup orang basudara sebagai fondasi perdamaian. Forum ini tidak sekadar dialog, melainkan ruang pemulihan relasi sosial berbasis adat dan sejarah bersama.
Raja Faan Patris Renwarin menegaskan bahwa Kailolo, Kei, dan SBT memiliki keterikatan sejarah yang tidak bisa dipisahkan.
“Mari kita tunjukkan hidup orang basudara dalam perilaku kita. Itu warisan leluhur yang patut kita jaga dan wariskan kepada generasi mendatang,” tegasnya.
Senada, Raja Kailolo Haruku Haji M. Ali Ohorela mengajak seluruh pemuda untuk menjaga silaturahmi dan menahan diri demi masa depan Maluku yang damai dan bermartabat.
Pada kesempatan tersebut, Umar Kei Ohoitenan menyerahkan santunan kepada para korban pertikaian. Ia menegaskan bahwa rekonsiliasi yang lahir dari nilai adat dan ikatan kekeluargaan adalah benteng paling kokoh bagi perdamaian berkelanjutan.
“Rekonsiliasi yang bertumpu pada adat dan hubungan darah persaudaraan adalah dasar kuat menjaga kedamaian. Ini warisan yang wajib kita rawat,” ujarnya di hadapan para pemuda.
Diskusi menghasilkan sembilan poin ikrar bersama, dibacakan oleh Raja Negeri Urun, Seram Bagian Timur, dan ditandatangani seluruh perwakilan. Poin pertama ikrar menegaskan:
“Kita menegaskan bahwa kita semua adalah orang basudara, satu gandong, satu rasa, terikat dalam hidup orang Maluku, saling hormat-menghormati dan sayang-menyayangi.”
Suasana haru menyelimuti penutupan dialog pertama ketika Umar Kei mengajak para pemuda untuk saling bersalaman dan berangkulan, diiringi lantunan lagu “Gandong” oleh penyanyi Chaken Supusepa.
Pertemuan lanjutan di Negeri Kailolo, Pulau Haruku, Kabupaten Maluku Tengah, mempertegas posisi Kailolo sebagai simpul sejarah persaudaraan lintas pulau. Umar Kei menyebut Kailolo sebagai titik temu ikatan gandong yang menentukan relasi kekeluargaan orang Maluku.
“Ketika hati dan perasaan menyatu sebagai saudara, perbedaan apa pun bisa diselesaikan. Nilai adat kita adalah duduk bersama, makan bersama, lalu saling menjaga,” tandasnya.
Kepedulian Umar Kei terhadap persatuan anak-anak Maluku lintas agama dan suku telah lama dibangun melalui FPMM di Jabodetabek dan berbagai provinsi. Lewat program-program sosial dan kemanusiaan, ia konsisten mengampanyekan perdamaian, membantu kaum kecil, serta membangun jejaring dengan pemerintah, TNI, Polri, dan berbagai elemen masyarakat.
Dikenal sebagai sosok yang religius dan rendah hati, Umar Kei menjadikan nilai keislaman sebagai sumber empati sosialnya. Kepada kaum muda Maluku, ia selalu berpesan agar rajin bekerja, menjaga iman, dan rela berkorban.
“Harta itu mudah dicari, tapi carilah sesama untuk menjadi teman. Tuhan yang akan menolong,” pesan Umar.
Rekonsiliasi ini menegaskan bahwa adat, sejarah, dan dialog jujur masih menjadi jalan paling ampuh merawat damai di Bumi Raja-Raja. (Rika)


