MINAHASA – Tradisi budaya yang telah diwariskan lebih dari satu abad kembali menggema di Kolongan Raya, Kecamatan Kombi. Pemerintah Desa Kolongan dan Desa Kolongan Satu menggelar Pelesir Pantai Kolongan Batu Hitam sebagai ungkapan syukur menyambut panen raya sekaligus memasuki tahun ajaran baru, Jumat (10/7/2026).
Kegiatan diawali dengan penyambutan oleh Hukum Tua Desa Kolongan, Novita Singkoh, SE, dilanjutkan ibadah syukur yang dipandu MC Nova Dowah serta dipimpin Pdt. Danie Mawuntu, M.Th dengan pembacaan Firman Tuhan dari Habakuk 3:1–16.
Dalam kesempatan itu, tokoh masyarakat Albert Angkou memaparkan sejarah tradisi Pelesir Pantai yang telah berlangsung sejak 1916. Menurutnya, tradisi tersebut merupakan warisan leluhur yang terus dijaga sebagai identitas budaya masyarakat Kolongan Raya.
Hukum Tua Novita Singkoh menegaskan, Pelesir Pantai bukan sekadar kegiatan rekreasi, melainkan wujud rasa syukur kepada Tuhan atas berkat panen dan momentum kebersamaan sebelum anak-anak kembali memasuki bangku sekolah.
"Tradisi ini adalah kekayaan budaya lokal yang diwariskan turun-temurun. Dari 13 desa di Kecamatan Kombi, hanya Kolongan Raya yang masih mempertahankan tradisi adat seperti ini," ujarnya.
Ia menjelaskan, rangkaian kegiatan meliputi ibadah syukur, makan bersama, hingga mandi di Pantai Batu Hitam sebagai simbol melepaskan keletihan dan membangun semangat baru dalam menjalani aktivitas.
Setiap tahunnya, tradisi ini selalu mendapat sambutan luar biasa. Tak hanya warga yang menetap di Kolongan Raya, masyarakat asal Kolongan yang tinggal di berbagai daerah juga pulang kampung untuk mengikuti kegiatan tersebut.
Mewakili Pemerintah Kabupaten Minahasa, Camat Kombi James Limpele, S.Sos., MAP menyampaikan permohonan maaf karena Bupati dan Wakil Bupati Minahasa berhalangan hadir akibat agenda pemerintahan yang telah dijadwalkan.
Dalam sambutannya, Camat Limpele mengapresiasi konsistensi masyarakat menjaga tradisi yang dinilai menjadi kekuatan budaya sekaligus perekat persatuan.
Ia juga mengajak seluruh masyarakat Kolongan Raya untuk menjaga kebersamaan menjelang pelantikan Hukum Tua serta mengesampingkan perbedaan pilihan politik.
"Mari kita bergandengan tangan membangun desa tercinta. Perbedaan saat pemilihan adalah hal biasa, tetapi setelah itu kita harus bersatu demi kemajuan Kolongan Raya," tegas Limpele.
Acara ditutup dengan ucapan terima kasih dari Hukum Tua Kolongan Satu Marthen Tambalean, dilanjutkan ramah tamah dan rekreasi bersama yang semakin mempererat tali persaudaraan masyarakat.
Turut hadir dalam kegiatan tersebut Camat Kombi beserta Ketua Tim Penggerak PKK Kecamatan Kombi, jajaran Pemerintah Desa Kolongan Raya, para pendeta yang tergabung dalam BAMAG Kolongan Raya, tokoh agama, tokoh masyarakat, warga Kolongan yang datang dari luar daerah, serta ratusan masyarakat yang memadati kawasan Pantai Batu Hitam.


