Minggu, 9 Agustus 2026, rumah duka Almarhum Darwin Muksin, S.Sos., M.M., Kepala Dinas Perkebunan Provinsi Sulawesi Utara, di Teling Atas, Manado, dipenuhi suasana duka.
Keluarga, kerabat, sahabat, serta jajaran Pemerintah Provinsi Sulawesi Utara datang memberikan penghormatan terakhir.
Di antara mereka, hadir Gubernur Sulawesi Utara Mayjen TNI (Purn.) Yulius Selvanus, S.E., bersama Ibu Anik Yulius Selvanus.
Namun hari itu, ada sesuatu yang berbeda.
Ketegaran seorang mantan prajurit yang selama ini dikenal tegas, perlahan runtuh di hadapan rasa kehilangan.
Air mata Gubernur YSK jatuh.
“Maafkan saya meneteskan air mata. Maafkan kalau saya cengeng,” ungkapnya dalam suasana penuh haru.
Kalimat sederhana itu menggambarkan betapa dalam kehilangan yang dirasakan.
Sebab Darwin Muksin bagi YSK bukan sekadar seorang pejabat di lingkungan Pemerintah Provinsi Sulawesi Utara. Ia adalah rekan kerja, sahabat, sekaligus sosok aparatur yang meninggalkan kesan kuat melalui loyalitas, kesungguhan dan kepribadiannya yang sederhana.
Darwin dikenal bukan sebagai pejabat yang bekerja sekadar memenuhi kewajiban.
Ketika diberi tugas A, B dan C, ia akan berusaha menyelesaikannya hingga tuntas.
Bahkan, pekerjaan yang diberikan kepadanya tidak berhenti pada batas minimal. Ia berusaha memberikan yang terbaik.
Begitulah Darwin bekerja.
Tidak banyak mengeluh. Tidak banyak bicara soal kesulitan. Ia memilih bekerja dan memastikan tanggung jawabnya selesai.
Namun di balik keseriusannya sebagai aparatur, Darwin juga dikenal sebagai sosok humoris.
Dan justru dari sebuah candaan sederhana itulah tersimpan kenangan terakhir yang kini begitu membekas.
Dua Kelapa Muda yang Kini Menjadi Kenangan
Sehari sebelum kepergiannya, Darwin masih menjalankan tugas yang berkaitan dengan penanaman kelapa.
Setelah tugas selesai, ia datang membawa dua buah kelapa muda.
Satu diberikan kepada Gubernur YSK.
Satu lagi diberikan kepada Ibu Anik Yulius Selvanus.
Sederhana.
Tidak ada yang istimewa dari dua buah kelapa muda tersebut.
Namun Darwin memberikan keduanya dengan gaya bercanda yang menjadi ciri khasnya.
Ia bahkan sempat berkelakar bahwa meskipun kelapa itu diberikan dengan tangan kiri, rasanya tetap manis.
Tawa pun pecah.
Mereka bercanda dan menikmati momen sederhana tersebut.
Tidak ada yang menyangka, percakapan dan tawa hari itu akan menjadi salah satu kenangan terakhir bersama Darwin.
Keesokan harinya, kabar duka datang.
Darwin telah pergi untuk selamanya.
Sejak saat itu, dua kelapa muda yang sebelumnya hanyalah pemberian sederhana berubah menjadi simbol kenangan yang begitu dalam.
Kelapanya mungkin sudah habis diminum.
Tetapi cerita di baliknya tidak akan pernah habis dikenang.
Senyumnya tetap diingat.
Candanya tetap terngiang.
Dan kebaikannya tetap tinggal dalam ingatan orang-orang yang pernah bekerja dan bersahabat dengannya.
Bukan Sekadar Kehilangan Seorang Kepala Dinas
Kepergian Darwin menjadi kehilangan besar bagi Pemerintah Provinsi Sulawesi Utara.
Yang pergi bukan hanya seorang pejabat yang menduduki jabatan Kepala Dinas Perkebunan.
Yang pergi adalah seorang aparatur yang dikenal memiliki semangat pengabdian, loyalitas dan rasa tanggung jawab.
Ia meninggalkan teladan bahwa pekerjaan tidak harus selalu disertai banyak kata.
Terkadang, pengabdian justru terlihat dari bagaimana seseorang menerima tugas, menjalankannya dengan sungguh-sungguh dan menyelesaikannya tanpa banyak mengeluh.
Di hadapan keluarga besar Muksin–Pangemanan, Gubernur YSK menyampaikan bahwa keluarga tidak menghadapi duka ini seorang diri.
Pemerintah Provinsi Sulawesi Utara ikut berduka.
Para sahabat dan rekan kerja ikut kehilangan.
Dan secara pribadi, Gubernur YSK kehilangan seorang sosok yang telah meninggalkan kesan mendalam dalam perjalanan pengabdiannya.
Doa pun dipanjatkan agar seluruh amal ibadah dan pengabdian Almarhum Darwin Muksin diterima Allah SWT, segala kekhilafannya diampuni, serta diberikan tempat terbaik di sisi-Nya.
Kepada keluarga yang ditinggalkan, doa dan harapan disampaikan agar diberikan kekuatan, ketabahan dan keikhlasan menghadapi kehilangan tersebut.
Ketika Dua Kelapa Muda Menjadi Simbol Perpisahan
Pada akhirnya, mungkin bukan perkara besar yang paling lama tinggal dalam ingatan.
Bukan jabatan.
Bukan ruangan kantor.
Bukan pula tumpukan dokumen pekerjaan.
Melainkan hal-hal kecil yang terjadi dalam keseharian.
Sebuah candaan.
Sebuah senyuman.
Sebuah pemberian sederhana.
Dan dalam kisah Darwin Muksin, dua kelapa muda itu kini menjadi saksi bisu sebuah pertemuan terakhir.
Pemberian yang saat itu mungkin dianggap biasa, kini berubah menjadi kenangan yang sangat berharga.
Karena seseorang bisa pergi dalam satu hari.
Tetapi kebaikan yang pernah diberikan, pengabdian yang pernah dilakukan, dan tawa yang pernah dibagikan dapat hidup jauh lebih lama.
Selamat jalan, Almarhum Darwin Muksin, S.Sos., M.M.
Terima kasih atas loyalitas, dedikasi dan pengabdian untuk Sulawesi Utara.
Dua kelapa muda itu mungkin sederhana. Tetapi di balik kesederhanaannya, tersimpan kenangan besar tentang seorang sahabat yang pergi terlalu cepat.


