MINAHASA - Ada kalimat yang sederhana, tetapi menyimpan makna yang dalam: “Aku bangga menjadi bagian GMIM.” Kalimat itu bukan hanya tentang sebuah identitas gereja. Di baliknya ada cerita tentang iman, keluarga, persaudaraan, pelayanan, air mata, sukacita, dan perjalanan panjang bersama Tuhan.
Ketika lagu “Aku Bangga GMIM” dinyanyikan, seakan kita diajak kembali mengingat dari mana perjalanan iman itu dimulai. Ada langkah-langkah kecil yang dahulu mungkin belum memahami arti pelayanan, tetapi perlahan bertumbuh melalui persekutuan gereja. Dari ibadah, sekolah minggu, remaja, pemuda, kaum ibu, kaum bapak, hingga berbagai bentuk pelayanan lainnya, semuanya menjadi bagian dari cerita kehidupan.
“Langkah kakiku mantap berjalan, dalam kasih-Nya yang menuntun jalan.”
Lirik ini seperti menggambarkan seseorang yang berjalan melewati kehidupan dengan keyakinan bahwa dirinya tidak pernah sendirian. Ada Tuhan yang menuntun, ada keluarga yang menopang, ada jemaat yang berjalan bersama, dan ada gereja yang menjadi tempat untuk bertumbuh dalam iman.
GMIM bukan sekadar bangunan tempat beribadah. GMIM adalah persekutuan orang percaya yang di dalamnya banyak kehidupan dipertemukan. Ada yang datang dengan sukacita, ada yang membawa pergumulan, ada yang sedang berjuang, bahkan ada yang hanya mampu datang dengan air mata. Namun di tengah persekutuan, selalu ada pengharapan bahwa kasih Tuhan tidak pernah meninggalkan umat-Nya.
Karena itu, kebanggaan menjadi warga GMIM seharusnya bukan hanya terlihat ketika mengenakan atribut gereja atau menyanyikan lagu dengan penuh semangat. Kebanggaan itu jauh lebih indah ketika terlihat dalam kehidupan sehari-hari.
Menjadi garam berarti memberi rasa bagi kehidupan. Menjadi terang berarti memberikan cahaya ketika orang lain berada dalam kegelapan.
Di situlah panggilan iman menemukan bentuknya.
Ketika ada orang yang membutuhkan pertolongan, tangan kita terulur. Ketika ada yang sedang bersedih, kita hadir memberikan penguatan. Ketika terjadi perbedaan, kita memilih menjadi pembawa damai. Dan ketika dunia semakin penuh dengan persoalan, gereja dipanggil untuk tetap menghadirkan kasih Kristus melalui tindakan nyata.
“Membawa damai, membagi cinta, untuk kemuliaan nama-Nya.”
Kalimat itu sederhana, tetapi menjadi pesan yang kuat. Sebab iman tidak hanya berbicara tentang apa yang kita percaya, tetapi juga tentang bagaimana kepercayaan itu terlihat melalui kehidupan.
Lalu terdengar sebuah ungkapan yang begitu dekat dengan hati banyak warga gereja:
“Lahir di GMIM, hidup di GMIM, sampai mati pun tetap di GMIM.”
Ungkapan tersebut dapat menjadi gambaran tentang kesetiaan terhadap persekutuan yang telah menjadi bagian dari perjalanan hidup. Namun lebih dari itu, seluruh perjalanan tersebut pada akhirnya harus mengarah kepada satu pusat: Yesus Kristus.
Sebab gereja bukan tujuan akhir. Gereja adalah tempat umat diperlengkapi untuk semakin mengenal, mengasihi, melayani, dan menjadi saksi Kristus.
Dalam rangkaian HUT GMIM Bersinode, lagu “Aku Bangga GMIM” menjadi semakin istimewa. Ia bukan hanya sebuah lagu perayaan, tetapi dapat menjadi nyanyian kesaksian bersama. Nyanyian yang mengingatkan bahwa perjalanan GMIM dibangun oleh iman, pelayanan, pengorbanan, persaudaraan, dan kesetiaan banyak orang dari generasi ke generasi.
Bayangkan ketika lagu itu dinyanyikan bersama dalam suasana HUT GMIM.
Anak-anak menyanyi dengan kepolosannya. Remaja dan pemuda menyanyikan dengan semangat masa depan. Kaum ibu dan kaum bapak menyanyikan dengan pengalaman kehidupan. Para pelayan khusus menyanyikannya dengan segala suka dan duka pelayanan.
Suara-suara itu kemudian menyatu menjadi satu kesaksian:
Kami bangga menjadi bagian dari GMIM.
Namun kebanggaan itu bukan untuk meninggikan diri. Kebanggaan itu justru harus membuat kita semakin rendah hati.
Semakin bangga menjadi warga GMIM, semakin besar pula tanggung jawab untuk menjaga persaudaraan. Semakin mencintai gereja, semakin kuat panggilan untuk melayani. Semakin memahami kasih Kristus, semakin luas pula hati untuk menerima dan menolong sesama.
Sebab pada akhirnya, orang tidak hanya mengenal gereja dari gedungnya, tetapi dari kehidupan umatnya.
GMIM akan semakin bermakna ketika umatnya mampu menunjukkan iman yang teguh, kasih yang nyata, pelayanan yang tulus, kepedulian kepada sesama, serta kesetiaan kepada Kristus.
“Aku Bangga GMIM” bukan sekadar lagu. Ia bisa menjadi doa, kesaksian, sekaligus komitmen.
Komitmen untuk terus berjalan dalam kasih Tuhan.
Komitmen untuk menjadi garam dan terang.
Komitmen untuk menjaga persaudaraan.
Komitmen untuk melayani dengan ketulusan.
Dan komitmen untuk menjadikan Kristus sebagai pusat kehidupan.
Dalam semangat HUT GMIM Bersinode, kiranya lagu “Aku Bangga GMIM” benar-benar dapat dinyanyikan bersama oleh seluruh warga GMIM—bukan hanya sebagai lagu kebanggaan, tetapi sebagai kesaksian iman dari satu generasi kepada generasi berikutnya.
Aku bangga GMIM.
Bukan karena gereja ini tanpa kekurangan, tetapi karena di dalamnya ada perjalanan iman yang terus dibentuk oleh Tuhan.
Lahir di GMIM, hidup dalam persekutuan, melayani dengan kasih, dan sampai akhir tetap berjalan bersama Kristus.
Itulah kebanggaan yang sesungguhnya.


