Manado — Tubuhnya belum sepenuhnya pulih. Langkahnya masih dijaga ketat oleh tim medis. Namun panggilan kemanusiaan jauh lebih keras daripada rasa sakit yang masih tersisa. Di tengah masa pemulihan pasca operasi, Gubernur Sulawesi Utara Yulius Selvanus, SE, memilih tidak berdiam diri.
Ketika kabar duka banjir bandang melanda Pulau Siau, Kabupaten Kepulauan Sitaro, Gubernur Yulius mengambil keputusan yang tidak biasa. Dengan kondisi kesehatan yang belum sepenuhnya stabil, ia tetap turun langsung ke lokasi bencana. Bukan sekadar simbolik, kehadirannya adalah bentuk tanggung jawab moral kepada rakyat yang sedang tertimpa musibah.
Perjalanan menuju Siau bukan tanpa risiko. Namun bagi Yulius Selvanus, memastikan warganya tertolong dan terlayani dengan baik adalah prioritas utama. Setibanya di lokasi, ia meninjau langsung kawasan terdampak, berdialog dengan warga, serta memastikan proses evakuasi, pelayanan kesehatan, dan distribusi bantuan berjalan maksimal.
Di hadapan aparat dan relawan, Gubernur menegaskan bahwa negara harus hadir di saat rakyat membutuhkan. “Dalam kondisi apa pun, keselamatan dan kebutuhan masyarakat harus diutamakan. Pemerintah tidak boleh absen,” tegasnya dengan suara tenang namun penuh keteguhan.
Warga Siau pun tak kuasa menyembunyikan rasa haru. Kehadiran orang nomor satu di Sulawesi Utara itu menjadi suntikan semangat di tengah kesedihan akibat bencana. Banyak warga menyebut langkah Gubernur Yulius sebagai bukti nyata kepemimpinan yang tidak hanya hadir di balik meja, tetapi berdiri langsung di tengah penderitaan rakyat.
Aksi kemanusiaan ini kembali menegaskan karakter kepemimpinan Yulius Selvanus: bekerja dengan hati, mengabdi tanpa pamrih, dan menempatkan rakyat di atas kepentingan pribadi.
Bahkan ketika dirinya sendiri masih berjuang memulihkan kesehatan, ia tetap memilih hadir, memastikan setiap warganya merasa tidak sendirian menghadapi musibah.


