Manado — Fajar belum sepenuhnya merekah ketika derap langkah mulai terdengar di pesisir Pantai Malalayang. Angin laut berembus lembut, membawa aroma asin yang bercampur dengan pemandangan yang tak selalu indah: sampah terselip di antara batu pemecah ombak.
Jumat, 6 Februari 2026, Gubernur Sulawesi Utara, Mayjen TNI (Purn) Yulius Selvanus, sudah berdiri di garis depan. Bukan memberi instruksi dari balik meja, melainkan memungut langsung potongan kayu dan plastik di sela bebatuan. Ia memimpin Gerakan Indonesia ASRI (Aman, Sehat, Resik, dan Indah) — gerakan yang diinstruksikan Presiden Prabowo Subianto sebagai panggilan kolektif menjaga lingkungan.
Tiga titik menjadi panggung keteladanan: Pantai MBW Malalayang, Godbless Park Sario, dan pesisir Karangria, Tuminting. Di setiap lokasi, gubernur tak sekadar hadir, tetapi bekerja.
Di Malalayang, ASN, TNI, dan warga berbaur tanpa sekat. Saat melihat potongan kayu yang terdampar, Yulius berujar singkat kepada seorang ASN, “Jadikan kayu bakar, itu.” Pesan sederhana, namun sarat makna: sesuatu yang dianggap sampah masih bisa bernilai bila dikelola bijak.
Rombongan bergerak ke Godbless Park Sario. Di ruang publik ikonik Kota Manado itu, Yulius menegaskan kebersihan sebagai bentuk penghormatan terhadap ruang bersama. Ia mengingatkan peserta agar tidak sekadar hadir sebagai formalitas.
“Yang mau turun harus tunjukkan bukti memegang sampah, kalau tidak jangan turun,” tegasnya, disambut senyum para peserta yang tetap bekerja.
Pelaksana Harian Sekretaris Provinsi Sulut, Dr. Denny Mangala, terlihat mengangkut segenggam sampah ke kendaraan pengangkut. Koordinator Staf Khusus Gubernur, Drs. Ferdinand Mewengkang, tampak menyemangati peserta sambil ikut membersihkan. Protokoler mencair, digantikan kerja nyata.
Perjalanan berlanjut ke Karangria, Tuminting. Ombak yang menghantam bebatuan menghadirkan tantangan tersendiri. Bahkan sebelum gubernur tiba, ASN dan TNI sudah bergerak lebih dulu. Kepala Dinas Sosial Sulut, Drs. Andra Mawuntu, terlihat memunguti plastik yang mengotori pesisir.
Di tengah kegiatan, seorang warga, Adri, mengaku tersentuh melihat pemimpin daerah turun langsung bersama rakyat.
“Torang berharap kegiatan ini dilaksanakan rutin dan terjadwal. Torang juga berpesan kepada pedagang di pesisir Karangria menyediakan tempat sampah agar konsumen tidak membuang botol plastik di pantai,” ujarnya.
Gerakan ASRI hari itu melampaui kerja bakti. Ia menjadi narasi tentang kepemimpinan yang membumi—hadir di tengah rakyat, menyatu dengan peluh dan deru ombak.
Saat matahari meninggi dan kendaraan pengangkut sampah meninggalkan lokasi, satu pesan terasa kuat di sepanjang pesisir Manado: perubahan besar dimulai dari langkah kecil. Dari satu tangan yang memungut sampah, lalu mengajak tangan lain bergerak bersama.
Pagi itu, di antara pasir yang kembali bersih dan ombak yang terus berdebur, Sulawesi Utara diingatkan kembali bahwa mencintai tanah kelahiran bisa dimulai dari hal paling sederhana: menjaga kebersihannya.


