Iklan

Iklan

Air Mata Syukur di Ujung Pengabdian: 40 Tahun Mengabdi, Ibu Jemie Rantoeng Tutup Masa Bakti dengan Iman dan Kasih

Swara Manado News
Sabtu, 31 Januari 2026, 15:40 WIB Last Updated 2026-01-31T07:41:05Z


MANADO
– Suasana haru dan penuh syukur menyelimuti ibadah purnabakti Ibu Jemie Rantoeng, S.Pd.K, Kepala SDN 58 Manado, yang dirangkaikan dengan syukur Hari Ulang Tahun ke-60, dalam sebuah ibadah yang hangat dan sarat kesaksian iman di kediaman keluarga Atui Rantoeng.


Ibadah dipimpin Ketua Badan Pekerja Majelis Jemaat GMIM Betesda Perkamil, Pdt. Stevy Rompas, S.Th. Firman Tuhan diambil dari 1 Korintus 2 dengan penegasan pesan: “Hiduplah dalam kasih, damai, dan sejahtera.” Pesan itu seolah menjadi rangkuman perjalanan panjang pengabdian seorang pendidik yang menutup masa tugasnya dengan hati yang penuh ucapan syukur.


Dalam kesaksiannya, Ibu Jemie menuturkan jejak 40 tahun pengabdian sebagai ASN di dunia pendidikan. Jalan panjang yang tidak selalu mudah. Lika-liku, tantangan, bahkan pergumulan pernah ia alami. Namun satu hal yang tak pernah berubah: ketaatan kepada Tuhan.


“Dalam setiap proses, Tuhan tidak pernah meninggalkan saya. Justru di masa-masa sulit, saya melihat kebaikan Tuhan semakin nyata,” tuturnya dengan suara bergetar.


Meski hanya tiga tahun  sebagai kepala sekolah, kepercayaan yang diberikan Dinas Pendidikan ia jalani dengan penuh tanggung jawab. Peran itu bahkan berkembang menjadi panggilan baru: menjadi mentor bagi para calon kepala sekolah, baik dari Manado maupun dari Kabupaten Minahasa Tenggara.


Salah satu kisah yang paling menyentuh adalah ketika ia dipercaya membimbing peserta yang tak lain adalah adiknya sendiri, bersama rekan-rekan guru lainnya. Baginya, itu bukan kebetulan, melainkan bagian dari rencana Tuhan agar pengalaman yang ia miliki dapat diteruskan kepada generasi pemimpin sekolah berikutnya.


“Mentor itu bukan sekadar tugas, tetapi tuntutan Tuhan yang harus saya jalani. Jika kita taat kepada Tuhan, kita akan taat menjadi pemimpin, dan taat kepada pemimpin,” ungkapnya.


Pesan yang terus ia tekankan kepada para calon kepala sekolah adalah sederhana namun mendalam: andalkan Tuhan dalam segala hal. Kepemimpinan, menurutnya, lahir bukan hanya dari teori, tetapi dari pengalaman hidup yang dijalani bersama Tuhan.


Kesaksian itu ditutup dengan pujian yang dibawakan keluarga: “Aku ada saat semua berkat kemurahan Tuhan, terima kasih Yesus, Engkau sangat baik, teramat baik bagiku.” Lagu itu membuat banyak jemaat menunduk haru, sebagian menyeka air mata.


Ibadah syukur tersebut dihadiri kakak beradik Ibu Jemie, rekan-rekan guru, sahabat, serta keluarga besar yang menjadi saksi perjalanan panjang seorang pendidik yang menutup masa bakti dengan kemuliaan iman.


Di usia 60 tahun, Ibu Jemie Rantoeng tidak hanya menandai akhir masa tugas, tetapi juga meninggalkan jejak keteladanan: bahwa pengabdian sejati lahir dari ketaatan, dan kepemimpinan terbaik tumbuh dari kasih kepada Tuhan.

Komentar
Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE. #JernihBerkomentar
  • Air Mata Syukur di Ujung Pengabdian: 40 Tahun Mengabdi, Ibu Jemie Rantoeng Tutup Masa Bakti dengan Iman dan Kasih

Terkini

Iklan