Sulut - Cahaya kebersamaan dan nuansa religius begitu terasa di kawasan Kampung Arab, Kota Manado, saat umat Muslim merayakan hari kedua Lebaran. Di lorong-lorong sempit yang sarat sejarah, tradisi Iwadh kembali dihidupkan, menjadi penanda bahwa nilai iman dan persaudaraan tetap terjaga di tengah arus zaman.
Sejak pagi hari, warga telah memadati setiap sudut kampung. Dengan langkah perlahan dan hati yang lapang, mereka menyusuri rumah-rumah, membawa semangat silaturahmi yang menjadi inti dari perayaan Idulfitri. Lantunan doa yang dipimpin para imam dan tokoh agama menggema syahdu, berpadu indah dengan tabuhan rebana hadroh yang menenangkan jiwa.
Kehangatan semakin terasa dengan kehadiran Gubernur Sulawesi Utara, Yulius Selvanus, bersama Wakil Gubernur Victor Mailangkay, yang turut menyatu dalam tradisi tersebut, Minggu (22/3/2026). Tanpa sekat, keduanya berjalan di tengah masyarakat, menyapa warga, dan bersalaman penuh keakraban—sebuah gambaran kepemimpinan yang dekat dengan rakyat.
Tak hanya itu, Sekretaris Provinsi Deny Mangala dan Pelaksana Tugas Kepala Dinas Pemuda dan Olahraga Sulut, Audy Pangemanan, juga lebih dahulu hadir, menunjukkan komitmen pemerintah dalam merawat tradisi yang sarat nilai spiritual ini.
Tradisi Iwadh yang telah diwariskan turun-temurun ini bukan sekadar ritual seremonial. Lebih dari itu, ia menjadi ruang suci untuk saling memaafkan, mempererat ukhuwah, serta menghidupkan kembali nilai-nilai Islam dalam kehidupan sosial. Di tengah kehidupan modern yang serba cepat, Iwadh hadir sebagai pengingat akan pentingnya kebersamaan dan keikhlasan.
Plt Kadispora Sulut, Audy Pangemanan, menilai bahwa Iwadh kini telah melampaui batas komunitas. Tradisi ini menjelma sebagai simbol kerukunan yang memperlihatkan bagaimana nilai-nilai keislaman dapat berpadu harmonis dengan budaya lokal di Kota Manado.
Hari itu, Kampung Arab tidak hanya menjadi pusat perayaan, tetapi juga cerminan indah tentang bagaimana iman, budaya, dan kebersamaan dapat berjalan seiring. Dalam setiap langkah dan doa yang dipanjatkan, tersimpan harapan akan kehidupan yang lebih damai—di mana perbedaan dirajut menjadi kekuatan dalam bingkai persaudaraan.



