Manado, SMNC - Siang itu terasa berbeda. Ada sukacita yang mengalir, ada semangat yang menyala. Puluhan Pemuda Jemaat GMIM Betesda Perkamil melangkah bersama, dipimpin oleh Timothy Sulu, ST, menuju satu momentum iman yang tak sekadar dirayakan tetapi dihidupi Selebrasi Paskah dan Satu Abad Pemuda GMIM di Lapangan Tikala hingga Lapangan Sindulang Mas.
Dalam balutan seragam coklat bertuliskan “Betesda” di dada, mereka tidak hanya datang sebagai peserta. Mereka hadir sebagai saksi bahwa iman itu hidup, bahwa kebersamaan itu nyata, dan bahwa pelayanan itu adalah panggilan.
Langkah demi langkah yang mereka ayunkan bukan sekadar perjalanan menuju lokasi kegiatan. Itu adalah perjalanan hati. Perjalanan iman. Di tengah terik matahari dan keramaian ribuan pemuda GMIM, ada satu hal yang tak berubah: semangat untuk memuliakan Tuhan.
Timothy Sulu, ST berdiri di tengah mereka, bukan sekadar sebagai pemimpin, tetapi sebagai bagian dari perjalanan itu sendiri. Dalam kebersahajaan, ia mengingatkan bahwa satu abad Pemuda GMIM bukan hanya tentang usia, melainkan tentang kesetiaan yang terus dijaga dari generasi ke generasi.
“Kita bukan hanya merayakan seratus tahun. Kita melanjutkan api iman yang sudah dinyalakan oleh mereka yang datang sebelum kita,” ucapnya penuh makna.
Di antara nyanyian pujian yang menggema, doa-doa yang terangkat, dan tawa yang menyatu dalam kebersamaan, Pemuda Betesda Perkamil menemukan kembali arti menjadi pemuda gereja: menjadi terang, menjadi garam, menjadi harapan.
Hari ini, mereka pulang bukan hanya dengan kenangan. Mereka pulang dengan api baru di dalam hati siap melayani, siap mengasihi, siap berjalan bersama Tuhan.
Satu abad telah berlalu. Dan di tangan pemuda-pemuda inilah, masa depan iman itu akan terus dituliskan.


