Postingan Populer

Total Tayangan Halaman

Iklan

Dari Candaan 17 Agustus ke Laporan Polisi, Deddy Rundengan: Astaga Naga!

Swara Manado News
Selasa, 18 Agustus 2026, 11:26 WIB Last Updated 2026-08-18T03:26:17Z


MINAHASA TENGGARA — Niat membuat lelucon menjelang perayaan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia justru membawa Deddy Rundengan berhadapan dengan persoalan hukum. Status media sosial yang menurut Deddy dibuat sekadar untuk bercanda dilaporkan ke Polsek Ratatotok.


Kisahnya bermula dari sebuah unggahan sederhana yang ditulis Deddy di media sosial:


«“Dalam rangka HUT RI ke-81 panitia akan melaksanakan lomba, tangkap air perak pakai tangan.”»


Bagi Deddy, kalimat tersebut hanyalah guyonan yang dikaitkan dengan karakter wilayah Ratatotok yang selama ini dikenal sebagai kawasan pertambangan.


Istilah “air perak” sendiri merujuk pada merkuri, yang dikenal digunakan dalam proses pengolahan emas. Namun, Deddy menegaskan bahwa unggahannya tidak dimaksudkan sebagai informasi ataupun ajakan melakukan aktivitas tertentu.


“Saya buat status lucu-lucuan. Dia anggap betul, eh dia lapor ke Kapolsek. Sudah kelihatan orangnya seperti... yah sudahlah,” ujar Deddy.


Alih-alih tegang, Deddy justru menanggapinya dengan tawa.


“Sampai kiamat tidak akan pernah digenggam air perak dengan tangan kosong. Astaga naga,” katanya sembari tertawa.


Namun, cerita yang awalnya terdengar seperti lelucon itu kemudian membuka pembicaraan yang lebih serius mengenai kondisi masyarakat dan pembangunan di Kecamatan Ratatotok.


Dari Lelucon Beralih ke Jalan Rusak


Di tengah polemik laporan tersebut, Deddy meminta perhatian publik tidak hanya tertuju pada sebuah status media sosial.


Ia menunjuk pekerjaan perbaikan sejumlah akses jalan di sembilan desa di Kecamatan Ratatotok melalui gerakan Penambang Bangun Kampung Ratatotok.


Gerakan tersebut digagas bersama Deddy Rundengan, Valdy Suak dan Erwin Tumbel, dengan melibatkan para penambang serta sejumlah tokoh masyarakat.


Menurut Deddy, gagasan itu lahir dari pertemuan informal yang kemudian berkembang menjadi gerakan bersama untuk memperbaiki infrastruktur kampung.


“Semua berawal dari kumpul-kumpul dan timbullah gagasan positif membangun kampung Ratatotok melalui infrastruktur jalan di dalam lorong,” ujarnya.


Sejumlah ruas jalan di kawasan permukiman disebut mengalami kerusakan dan berlubang. Kondisi itu dinilai mengganggu mobilitas warga sekaligus membahayakan pengendara.


Karena itu, para penambang yang tergabung dalam gerakan tersebut memilih mengambil bagian dalam perbaikan akses jalan.


“Seperti teman-teman media lihat, jalan rusak dan berlubang sudah diaspal hotmix. Dan akan kita selesaikan secara bertahap,” kata Deddy.


Delapan Titik Jadi Sasaran


Sedikitnya delapan titik jalan menjadi sasaran pekerjaan.


Di antaranya akses Jalan Lakban sepanjang 14 meter dengan lebar 4 meter menggunakan LPA hotmix, pertigaan Lakban untuk pekerjaan patching, Lorong Ci Mei berukuran 37×4 meter, akses SD Inpres 28×4 meter, depan Lapangan Narato 5×4 meter, Lapangan Narato Tengah 5×4 meter, pertigaan perkuburan 81×4 meter serta pertigaan penjual daging 3×2 meter.


“Ada delapan titik jalan yang nantinya dikerjakan secara profesional,” ujar Deddy.


Untuk tahap awal, anggaran yang disebut disiapkan berada di kisaran Rp1,2 miliar, dengan kemungkinan bertambah sesuai sumber dana yang tersedia.


Deddy, yang juga Ketua LSM LAKRI Mitra, menegaskan bahwa gerakan tersebut tidak sekadar berbicara soal pembangunan fisik.


Menurutnya, ada pesan kepedulian dari para penambang terhadap wilayah yang selama ini menjadi tempat mereka mencari kehidupan.


“Ini adalah wujud dan kepedulian para penambang untuk membangun kampung,” tukasnya.


Pada akhirnya, sebuah status yang dimulai sebagai lelucon 17 Agustus justru berkembang menjadi cerita tentang laporan polisi, kehidupan masyarakat pertambangan hingga gerakan memperbaiki jalan kampung.


Deddy pun berharap polemik tersebut tidak membuat perhatian publik berhenti pada candaan semata.


Sebab, di balik kisah “tangkap air perak” yang mengundang tawa, ada pekerjaan yang menurutnya jauh lebih penting: membangun akses jalan dan menunjukkan kepedulian terhadap kampung bersama-sama.

👁️ Dilihat: hitwebcounter.com/
Komentar
Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE. #JernihBerkomentar
  • Dari Candaan 17 Agustus ke Laporan Polisi, Deddy Rundengan: Astaga Naga!

Terkini

Iklan