MANADO – Kepedulian terhadap lingkungan tidak cukup hanya dengan mengajak masyarakat membuang sampah pada tempatnya. Lebih dari itu, diperlukan edukasi, keteladanan, dan pendampingan agar sampah dapat dikelola menjadi sesuatu yang bernilai. Semangat inilah yang terus ditunjukkan Lieke Kembuan, S.Sos., Aj.Ak., Kepala Bidang Pengelolaan Sampah dan Limbah Bahan Berbahaya dan Beracun (PSLB3) Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Manado.
Perempuan yang akrab disapa Ibu Like ini dikenal konsisten mengedukasi masyarakat tentang pentingnya mengurangi dan mengelola sampah, sekaligus mengubah cara pandang warga terhadap limbah yang selama ini dianggap tidak berguna.
Baginya, sampah bukan sekadar persoalan kebersihan kota, melainkan juga memiliki potensi ekonomi apabila dikelola dengan baik dan kreatif.
Melalui edukasi dan pendampingan, Ibu Like mendorong kaum perempuan di Kota Manado untuk mengambil peran lebih besar dalam menjaga lingkungan. Ia mengajak ibu-ibu rumah tangga memahami bahwa langkah sederhana dari rumah dapat memberikan dampak besar bagi kebersihan kota sekaligus kesejahteraan keluarga.
Salah satu upaya yang didorong adalah pengelolaan sampah melalui bank sampah. Program ini membuka kesempatan bagi masyarakat untuk memilah dan mengumpulkan sampah yang masih memiliki nilai jual.
Tidak berhenti di situ, Ibu Like juga mendorong kreativitas ibu-ibu bersama pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) untuk mengolah bahan bekas menjadi produk yang lebih bermanfaat, seperti tas, bunga hias, dan berbagai kerajinan lainnya.
Upaya tersebut menunjukkan bahwa pengelolaan sampah dapat berjalan seiring dengan pemberdayaan ekonomi masyarakat. Barang yang sebelumnya dianggap tidak bernilai dapat diolah menjadi produk kreatif yang berpotensi menghasilkan pendapatan tambahan.
Di sinilah peran Ibu Like menjadi penting. Ia tidak hanya menyampaikan teori tentang kebersihan lingkungan, tetapi juga mendorong masyarakat melihat peluang di balik persoalan sampah.
Bagi kaum ibu, keterampilan mengolah limbah menjadi produk bernilai ekonomi dapat menjadi pintu untuk membantu keuangan keluarga. Sementara bagi pemerintah kota, partisipasi masyarakat dalam memilah dan mengurangi sampah turut mendukung upaya penanganan persoalan persampahan dari sumbernya, yakni rumah tangga.
Ibu Like meyakini bahwa perubahan besar dalam pengelolaan sampah harus dimulai dari kebiasaan kecil di lingkungan keluarga.
Ketika ibu-ibu memiliki pengetahuan dan kesadaran untuk memilah sampah, menggunakan kembali barang yang masih layak, serta mengolah limbah organik, volume sampah yang dibuang dapat ditekan.
Peran perempuan di tingkat rumah tangga pun menjadi semakin strategis. Mereka bukan hanya menjaga kebersihan lingkungan tempat tinggal, tetapi juga menjadi penggerak perubahan perilaku bagi anggota keluarga dan masyarakat sekitar.
Melalui pendekatan edukatif, Ibu Like ikut mendorong tumbuhnya kesadaran bahwa menjaga lingkungan bukan semata-mata tanggung jawab pemerintah melalui DLH, melainkan membutuhkan keterlibatan aktif seluruh warga.
Ibu-ibu yang selama ini menjalankan aktivitas rumah tangga dapat menjadi garda terdepan dalam gerakan pengurangan sampah, sekaligus pelaku perubahan menuju lingkungan yang lebih bersih dan produktif.
Kepedulian Ibu Like terhadap lingkungan juga tercermin dalam edukasi pemanfaatan lahan pekarangan rumah.
Dengan memanfaatkan ruang yang tersedia, masyarakat diajak menanam berbagai tanaman kebutuhan sehari-hari, termasuk cabai, daun bawang, serai, dan aneka bumbu dapur lainnya.
Kebiasaan ini memberikan manfaat nyata bagi keluarga. Saat membutuhkan bumbu untuk memasak, penghuni rumah dapat memetik langsung dari pekarangan tanpa harus selalu membelinya di pasar.
Selain membantu menghemat pengeluaran rumah tangga, pekarangan produktif juga dapat memperindah lingkungan dan mendorong kebiasaan hidup yang lebih mandiri.
Bahkan, hasil tanaman yang tersedia bisa dibagikan kepada tetangga atau orang lain yang membutuhkan. Dari halaman rumah, tumbuh pula nilai kebersamaan, kepedulian, dan semangat saling membantu.
Praktik tersebut memperlihatkan bahwa edukasi lingkungan dapat melampaui persoalan sampah. Masyarakat juga didorong untuk memanfaatkan sumber daya yang tersedia secara bijak demi meningkatkan kualitas hidup.
Konsistensi Lieke Kembuan dalam mengedukasi masyarakat menjadi gambaran bahwa pengelolaan sampah membutuhkan pendekatan yang dekat dengan kehidupan sehari-hari warga.
Sampah yang dikelola dengan benar dapat membantu mengurangi beban lingkungan. Kreativitas dalam mendaur ulang membuka peluang usaha, sedangkan pemanfaatan pekarangan dapat membantu menekan pengeluaran keluarga.
Semua itu membutuhkan kesabaran, pendampingan, dan kemauan untuk terus mengajak masyarakat berubah.
Dengan pendekatan tersebut, Ibu Like tidak hanya menjalankan peran sebagai pejabat di lingkungan DLH Kota Manado, tetapi juga menjadi penggerak edukasi yang mendorong kaum perempuan mengambil bagian dalam solusi persoalan lingkungan.
Dedikasinya patut mendapat apresiasi karena pesan yang dibawanya sederhana, tetapi bermakna: sampah dapat menjadi rupiah, pekarangan dapat menjadi sumber kebutuhan keluarga, dan ibu-ibu dapat menjadi kekuatan utama dalam menciptakan lingkungan yang bersih sekaligus produktif.
Pada akhirnya, keberhasilan pengelolaan sampah bukan hanya diukur dari seberapa banyak sampah yang diangkut, melainkan juga dari seberapa besar perubahan perilaku masyarakat dalam mengurangi, memilah, memanfaatkan, dan mengolahnya.
Semangat yang terus dibangun Ibu Like menjadi pengingat bahwa Manado yang lebih bersih dan berkelanjutan dapat dimulai dari rumah, dari tangan kaum perempuan, dan dari kebiasaan sederhana yang dilakukan secara konsisten.


