Foto (Ist)
JAKARTA – Di Jakarta, kota yang dibangun dari kecepatan dan jarak, ada satu sore yang berjalan lebih pelan. Di Balai Tetap Setia, ratusan warga Perhimpunan Masyarakat Keturunan Kakas (PMKK) berkumpul, membawa sesuatu yang tak kasatmata namun terasa kuat: ingatan tentang kampung halaman.
Natal, Kunci Taon 2025, dan Tombaru 2026 dirayakan bukan sekadar sebagai penanda kalender. Ia menjelma ruang perjumpaan batin—tempat masyarakat Kakas yang tersebar di berbagai penjuru Indonesia kembali merajut persaudaraan yang tak pernah benar-benar terputus oleh waktu maupun jarak.
Di antara wajah-wajah yang hadir, terselip kisah panjang perantauan. Ada yang datang dengan rambut memutih dan cerita puluhan tahun di ibu kota. Ada pula generasi muda yang lahir jauh dari tanah Kakas, namun tumbuh dengan nilai-nilai yang diwariskan lewat doa, cerita keluarga, dan tradisi. Sore itu, semuanya bertemu dalam satu ikatan yang sama: rasa memiliki.
Kehadiran Gubernur Sulawesi Utara, Mayjen TNI (Purn) Yulius Selvanus, SE, bersama istri Anik Yulius Selvanus, memberi makna tersendiri. Ia hadir bukan hanya sebagai pejabat negara, melainkan sebagai bagian dari keluarga besar Kakas—seorang anak daerah yang kembali menyapa akar.
Dalam sambutannya, lulusan Akademi Militer 1988 itu berbicara dengan bahasa yang sederhana, namun sarat makna. Ia menyampaikan rasa syukur atas kebersamaan yang terus terpelihara, baik bagi mereka yang tinggal di kampung halaman maupun yang berjuang di tanah rantau. Bagi Yulius, kekuatan masyarakat Kakas tidak terletak pada posisi atau jabatan, melainkan pada solidaritas yang diwariskan lintas generasi.
“Di mana pun kita berada, persatuan harus tetap kita jaga. Dari kebersamaan itulah kekuatan kita tumbuh,” ujarnya.
Ia juga menegaskan komitmennya untuk terus membangun Sulawesi Utara, sembari mengajak seluruh warga Kakas untuk tetap menjadi bagian dari proses tersebut—dengan menjaga persaudaraan, nilai budaya, dan semangat saling menopang.
Perayaan itu berjalan tanpa kemewahan. Namun justru di situlah maknanya tumbuh. Doa, nyanyian, dan percakapan kecil antarsesama menjadi pengikat yang hangat. Jakarta yang biasanya terasa dingin dan anonim, sore itu berubah menjadi ruang akrab yang penuh rasa.
Bagi warga Kakas, pertemuan ini adalah pengingat bahwa merantau bukan berarti tercerabut. Identitas tetap hidup selama ada kesediaan untuk saling menyapa dan menjaga akar.
Dan di Balai Tetap Setia, mereka membuktikan satu hal penting: sejauh apa pun langkah kaki membawa pergi, jalan pulang selalu ada—tersimpan di dalam persaudaraan.


