Sukabumi – Hujan yang terus mengguyur wilayah Kecamatan Bantargadung, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, sejak Rabu (4/3), memicu bencana gerakan tanah yang mengakibatkan kerusakan parah di sejumlah pemukiman warga. Dampaknya tidak kecil. Lebih dari seratus rumah rusak dan ratusan warga kini terpaksa meninggalkan rumah mereka demi keselamatan.
Data terbaru yang dirilis Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) hingga Jumat (6/3) mencatat sebanyak 114 unit rumah mengalami kerusakan dengan tingkat yang bervariasi. Rinciannya, 70 rumah rusak berat, 26 rumah rusak sedang, dan 18 rumah rusak ringan, sementara 9 rumah lainnya berada dalam kondisi terancam akibat pergerakan tanah yang masih berpotensi terjadi.
Bencana ini melanda Desa Bantargadung dan Desa Bojonggaling, dua wilayah yang berada di kawasan rawan gerakan tanah. Akibatnya, 134 kepala keluarga atau sekitar 475 jiwa terdampak langsung oleh peristiwa tersebut.
Kondisi tanah yang tidak stabil dan bangunan yang mulai retak hingga ambruk memaksa sebagian besar warga segera mengungsi. Tercatat 120 kepala keluarga yang terdiri dari 407 jiwa harus meninggalkan rumah mereka dan mencari perlindungan di lokasi yang lebih aman.
Tak hanya merusak rumah warga, bencana ini juga berdampak pada fasilitas umum. Satu unit fasilitas pendidikan mengalami kerusakan, sementara akses jalan di wilayah terdampak turut mengalami gangguan, sehingga menyulitkan mobilitas warga dan proses distribusi bantuan.
Melihat situasi yang semakin serius, Bupati Sukabumi menetapkan Status Tanggap Darurat Bencana Tanah Bergerak melalui SK Nomor 300.2.1/Kep 246-BPBD/2026. Status darurat tersebut berlaku selama tujuh hari, mulai 4 hingga 10 Maret 2026, guna mempercepat penanganan dan koordinasi lintas instansi dalam penanggulangan bencana.
Di lapangan, BPBD Kabupaten Sukabumi bersama BPBD Provinsi Jawa Barat dan sejumlah instansi terkait terus melakukan kaji cepat (assessment) serta pendataan terhadap kerusakan dan kebutuhan warga. Posko tanggap darurat juga telah didirikan sebagai pusat koordinasi bantuan bagi para pengungsi.
Sementara itu, tim gabungan yang terdiri dari aparat pemerintah daerah, relawan, dan masyarakat bahu-membahu memastikan kebutuhan dasar para penyintas tetap terpenuhi. Bantuan yang saat ini sangat dibutuhkan antara lain logistik untuk dapur umum, air bersih, perlengkapan bayi dan lansia, serta peralatan tidur bagi para pengungsi.
BNPB juga mengingatkan masyarakat yang tinggal di wilayah rawan gerakan tanah agar tetap meningkatkan kewaspadaan, terutama saat hujan turun dengan intensitas tinggi dan berlangsung lama.
“Kami mengimbau masyarakat untuk segera mengikuti instruksi evakuasi dari petugas setempat apabila terdapat tanda-tanda pergerakan tanah, guna menghindari korban jiwa,” ujar Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Abdul Muhari dalam keterangan resminya.
Di tengah duka akibat rumah yang rusak dan tanah yang terus bergerak, harapan warga kini bertumpu pada bantuan dan solidaritas banyak pihak agar mereka dapat segera bangkit dan kembali menata kehidupan.



