Di Balik Gemuruh Rakerda Gerindra Sulut, Loyalitas Kader dan Kerja “Orang Belakang Layar” Jadi Kunci
Swara Manado News
Last Updated
2026-05-23T12:06:12Z
MANADO — Gemuruh tepuk tangan ribuan kader yang memadati kawasan Manado Town Square (Mantos), Sabtu (24/5/2026), menjadi gambaran kuat soliditas Partai Gerindra Sulawesi Utara. Namun di balik megahnya pelaksanaan Rapat Kerja Daerah (Rakerda) tersebut, ada sisi lain yang ikut mencuri perhatian: kerja senyap para staf pendukung dan loyalitas kader akar rumput yang menjaga mesin partai tetap bergerak.
Di tengah sorotan terhadap kehadiran Ketua Harian DPP Partai Gerindra sekaligus Wakil Ketua DPR RI, Sufmi Dasco Ahmad, sejumlah staf khusus dan tim pendukung Ketua DPD Gerindra Sulut, Yulius Selvanus, justru terlihat sibuk bekerja di belakang layar.
Mereka mengatur alur kedatangan tamu, menjaga koordinasi antarstruktur partai, hingga memastikan agenda berjalan tanpa hambatan. Di tengah padatnya massa kader, kerja para pendukung lapangan itu menjadi penopang utama agar kegiatan tetap tertib dan terkendali.
Situasi tersebut memperlihatkan bahwa kekuatan politik sebuah partai tidak hanya lahir dari figur elite, tetapi juga dari barisan orang-orang yang bekerja tanpa banyak sorotan.
“Yang terlihat di panggung memang pimpinan partai, tapi yang menjaga semuanya tetap berjalan itu kerja tim di bawah,” ujar salah satu kader yang hadir di lokasi kegiatan.
Rakerda Gerindra Sulut kali ini memang bukan sekadar forum organisasi biasa. Atmosfer yang tercipta menunjukkan adanya upaya serius membangun kekuatan politik yang lebih rapi dan solid menjelang dinamika politik berikutnya.
Kehadiran Dasco yang berlangsung mendadak bahkan sempat mengejutkan Yulius Selvanus sendiri. Candaan Yulius yang mengaku “didadak” oleh Dasco langsung disambut riuh kader, namun banyak pihak membaca momen itu sebagai simbol kuatnya perhatian DPP terhadap Sulawesi Utara.
Di sisi lain, loyalitas kader akar rumput juga menjadi pemandangan yang tak bisa diabaikan. Ribuan kader rela datang sejak pagi, mengenakan atribut partai, dan bertahan hingga agenda selesai. Hal itu memperlihatkan bahwa mesin politik Gerindra di Sulut masih terjaga dan memiliki daya gerak yang kuat.
Dalam pidatonya, Yulius kembali mengingatkan bahwa kader partai harus hadir di tengah masyarakat dan menjadi solusi atas persoalan rakyat. Pesan itu dinilai sebagai penegasan bahwa konsolidasi partai tidak boleh berhenti di ruang rapat, tetapi harus berlanjut hingga ke kerja nyata di lapangan.
Rakerda tersebut akhirnya bukan hanya menjadi ajang unjuk kekuatan politik, tetapi juga memperlihatkan bagaimana sebuah partai besar bertahan melalui kombinasi loyalitas kader, disiplin organisasi, dan kerja senyap orang-orang di belakang layar.
Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE. #JernihBerkomentar