MITRA - Dugaan persekongkolan yang berujung pada aksi intimidasi, tekanan mental, hingga ancaman terhadap perempuan berinisial LCR alias Cici dan Pak Eko kini menjadi sorotan publik. Kasus yang awalnya dianggap persoalan pribadi rumah tangga, perlahan berubah menjadi isu sosial yang memantik perhatian masyarakat luas karena dinilai telah mengarah pada tindakan teror psikologis secara bersama-sama.
Pak Eko secara terbuka mengungkapkan kekecewaannya terhadap istrinya sendiri berinisial APA alias Adisa, yang saat ini sedang menjalani proses perceraian dengannya. Menurut pengakuan Pak Eko, konflik rumah tangga yang seharusnya diselesaikan secara dewasa justru berubah menjadi rangkaian tekanan dan dugaan intimidasi terhadap LCR alias Cici, yang disebut hanya memiliki hubungan kerja sama bisnis dengannya.
Yang membuat publik tersentak, muncul dugaan adanya komunikasi bernada ancaman yang diduga dilakukan secara terorganisir. Dalam salah satu bukti percakapan yang disebut dimiliki korban, terdapat ucapan dengan logat Manado yang berbunyi:
“Torang kasih rusak dia punya mental.”
Kalimat tersebut kini menjadi perhatian serius karena dianggap bukan sekadar emosi sesaat, melainkan bentuk tekanan psikologis yang dapat menghancurkan kondisi mental seseorang. Korban pun mengaku mengalami ketakutan, trauma, hingga tekanan emosional akibat persoalan yang terus berkembang dan menyeret nama baik keluarga besar kedua belah pihak.
Tidak berhenti di situ, dugaan persekongkolan semakin menguat setelah mantan pacar LCR alias Cici yang berinisial RS alias Rian disebut ikut terlibat dalam aksi tekanan terhadap korban. Diketahui, hubungan asmara antara RS alias Rian dan Cici telah berakhir beberapa waktu lalu karena persoalan pribadi yang menimbulkan rasa kecewa dari pihak mantan pacar.
Namun pasca putusnya hubungan tersebut, situasi disebut berubah menjadi upaya bersama untuk menyerang mental korban. Bahkan, RS alias Rian diduga mendatangi rumah makan milik Cici dan menuliskan kata-kata bernada intimidasi bertuliskan:
“JANGAN LARI.”
Tindakan itu disebut membuat korban semakin merasa terpojok dan tidak nyaman menjalankan aktivitas usahanya sehari-hari.
Yang lebih menyakitkan lagi bagi korban, dugaan persekongkolan tersebut bukan hanya melibatkan pihak luar, tetapi juga orang dekat dari lingkungan keluarga sendiri.dari LCR alias Cici disebut justru tidak berdiri membela keponakannya, melainkan diduga ikut berpihak dan terlibat bersama APA alias Adisa serta RS alias Rian dalam tekanan terhadap korban.
Publik pun mulai mempertanyakan motif di balik dugaan persengkokolan tersebut. Masyarakat menilai persoalan rumah tangga dan hubungan asmara tidak seharusnya berubah menjadi aksi bersama untuk mempermalukan, menekan, hingga menghancurkan mental seseorang.
“Kalau benar ada persekongkolan untuk menyerang mental korban, ini bukan lagi sekadar konflik biasa. Ini sudah menyentuh sisi kemanusiaan dan bisa berdampak panjang terhadap psikologis korban,” ungkap salah satu tokoh masyarakat.
Pak Eko sendiri menegaskan bahwa dirinya merasa sangat dirugikan atas tuduhan-tuduhan yang berkembang di tengah masyarakat. Ia mengaku nama baiknya dihancurkan dan keluarganya ikut menerima dampak sosial dari persoalan tersebut.
Sementara itu, LCR alias Cici mengaku selama ini memilih diam demi menghindari konflik berkepanjangan. Namun tekanan yang terus terjadi membuat dirinya merasa perlu mencari perlindungan hukum.
“Kami merasa dituduh tanpa fakta yang jelas, diteror secara mental, dipermalukan, bahkan ada dugaan ancaman. Ini sudah terlalu jauh,” ujar sumber dekat korban.
Kini, Pak Eko dan LCR alias Cici disebut tengah menyiapkan langkah hukum terhadap pihak-pihak yang diduga terlibat dalam aksi intimidasi, ancaman, serta pencemaran nama baik tersebut. Mereka berharap aparat penegak hukum dapat bertindak profesional dan mengusut dugaan persekong


