Minahasa. Smnc – Sekretaris Daerah (Sekda) Minahasa, Dr. Lynda D. Watania, M.M., M.Si.hadir di hadapan ratusan murid SMP N 2 Tondano,Selasa 19/05/2026.
Suasana di SMP Negeri 2 Tondano, terasa begitu merinding bukan hanya karena rindangnya pepohonan yang tertata rapi di bawah kepemimpinan Kepala Sekolah Charlota Joselin Ngangi, M.Pd,
Ratusan siswa duduk rapi. Di antara mereka, ada yang berhijab, ada yang mengenakan kalung salib. Sebuah miniatur kecil Indonesia yang damai di tanah Minahasa.
Pagi itu, Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) bersama Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) menggelar Sosialisasi Bina Rohani Siswa.
Sekda Lynda Watania hadir mewakili Bupati Dr. Robby Dondokambey, S.Si., M.A.P., dan Wakil Bupati Vanda Sarundajang, S.S. Namun, kehadiran Sekda bukan sekadar untuk membawakan sambutan formal birokrasi.
Ia datang membawa sebuah harapan besar tentang masa depan bangsa.
Hari ini, di era kecerdasan buatan (Artificial Intelligence) dan Chat GPT, ancaman itu bersembunyi di balik layar ponsel pintar di saku celana anak-anak SMP.
”Dunia sekarang seolah tanpa batas,” ujar Lynda Watania di hadapan para siswa. “Informasi dari belahan Amerika atau Eropa bisa sampai ke tangan kita hanya dalam hitungan detik.”
Kecepatan teknologi ini, menurut Lynda, ibarat pisau bermata dua. Di satu sisi, pengetahuan menjadi begitu mudah diakses.
Di sisi lain, jika tidak ada benteng yang kuat, anak-anak yang masih dalam usia rentan ini akan sangat bebas terseret ke dalam konten negatif yang belum layak mereka konsumsi.
”Itulah mengapa Pemerintah Kabupaten Minahasa bergerak cepat. Kita masuk ke sekolah-sekolah, ke tingkat yang paling rentan, termasuk anak-anak SMP,” tegasnya.
Bagi Sekda Lynda, membentengi generasi muda tidak bisa dilakukan dengan doktrin yang kaku.
Pendekatannya harus menyentuh budaya setempat.
Minahasa, katanya, punya modal sosial yang luar biasa bernama Mapalus.
Sebuah tradisi gotong royong yang mengajarkan bahwa beban seberat apa pun akan terasa ringan jika dipikul bersama tanpa memandang perbedaan.
Sekda Lynda tidak ingin berbicara searah. Ia mengajak para siswa berinteraksi langsung.
”Siapa yang hafal Pancasila? Coba sebutkan kuat-kuat suaranya!” tantang Sekda.
Seorang siswa perempuan dengan berani berdiri dan menyebutkan Sila pertama hingga ke-lima. Selanjutnya Sekda memaparkan satu per satu sila dalam dasar negara.
Sila pertama, jaminan kebebasan beragama yang harus saling menghormati.
Sila kedua, tentang memanusiakan manusia dan tidak diskriminatif dalam pergaulan. Hingga sila kelima tentang keadilan sosial.
”Tidak ada warga negara Indonesia yang tidak hafal Pancasila. Itu adalah pijakan pertama kita untuk membangun kehidupan berbangsa,” kata Sekda.
Melalui kemitraan dengan FKUB yang merangkul seluruh pemuka agama Kristen Protestan, Katolik, Islam, Hindu, Buddha, hingga Konghucu.
Pemerintah Kabupaten Minahasa ingin memastikan bahwa perbedaan keyakinan justru menjadi perekat pertemanan di sekolah, bukan pemisah.
Langkah Kesbangpol dan FKUB Minahasa yang berpindah dari satu sekolah ke sekolah lain ini merupakan investasi jangka panjang.
Sasarannya jelas, memastikan bahwa apa pun yang dikerjakan oleh generasi penerus ini kelak, mereka tetap teguh berdiri dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). (JEM)

.jpg)
