Menurut Glen Rauw, pembangunan jembatan permanen di lokasi tersebut belum dapat dilaksanakan pada tahun 2026 karena masih menunggu program dan penganggaran pada tahun berikutnya.
“Untuk pekerjaan jembatan permanen tahun ini memang belum ada. Rencana pembangunan permanen nantinya diusulkan tahun depan,” ujar Glen Rauw kepada awak media.
Ia menjelaskan, saat ini penanganan di lokasi masih menggunakan jembatan sementara guna menjaga konektivitas jalur nasional agar tetap dapat dilalui kendaraan.
Meski demikian, Glen mengakui bahwa setiap pelaksanaan pekerjaan di lapangan berpotensi menimbulkan kepadatan arus lalu lintas karena kondisi akses yang terbatas.
“Sekarang masih menggunakan jembatan sementara. Jadi dipastikan kalau ada pekerjaan di lokasi pasti akan terjadi kemacetan,” jelasnya.
Glen juga menegaskan bahwa pihak BPJN Sulut tetap melakukan penanganan secara bertahap untuk memastikan jalur Trans Sulawesi tetap fungsional dan dapat digunakan masyarakat.
Sebelumnya, kemacetan panjang sempat terjadi di lokasi pada Minggu, 14 Juni 2026 akibat pekerjaan perbaikan oprit jembatan. Ribuan kendaraan dilaporkan terjebak antrean di ruas nasional yang menjadi jalur utama penghubung Manado dan Kotamobagu.
Kondisi tersebut memicu keluhan masyarakat dan pengguna jalan yang berharap pemerintah segera merealisasikan pembangunan jembatan permanen demi menghindari gangguan lalu lintas berkepanjangan.
Masyarakat sekitar juga meminta adanya kepastian waktu pelaksanaan pembangunan permanen agar persoalan kemacetan dan kekhawatiran pengguna jalan tidak terus berulang setiap kali dilakukan pekerjaan di lokasi jembatan sementara tersebut.


