KOTAMOBAGU — Di Kelurahan Upai, suasana duka belum juga reda. Tangis keluarga yang kehilangan orang tercinta masih menyisakan luka mendalam setelah tragedi memilukan mewarnai ajang Drag Race dan Drag Bike Kotamobagu 2026.
Bagi keluarga korban yang meninggal dunia, peristiwa itu bukan sekadar berita. Ada rumah yang kehilangan anggota keluarga, ada orang tua yang kehilangan anak, dan ada keluarga yang kini harus menjalani hari-hari dengan kesedihan yang sulit diungkapkan dengan kata-kata.
Sementara itu, para korban yang mengalami luka berat masih harus berjuang untuk memulihkan kondisi mereka. Sebagian bahkan harus mendapatkan penanganan lebih lanjut di RSUP Prof. Dr. R.D. Kandou Manado.
Di tengah situasi penuh air mata itu, perhatian terhadap korban dan keluarga menjadi jauh lebih penting daripada sekadar memperdebatkan siapa yang tercantum dalam sebuah spanduk kegiatan.
Nama Tunas Indonesia Raya (TIDAR) Sulawesi Utara memang tercantum sebagai sponsor kegiatan. Namun, posisi tersebut perlu diluruskan. TIDAR menyatakan tidak berada dalam struktur penyelenggara teknis maupun operasional perlombaan.
Penyelenggaraan utama dan tanggung jawab teknis di lapangan berada pada Dewan Penasihat Muda Charaka. Dengan demikian, TIDAR tidak memiliki kendali terhadap operasional maupun teknis balapan.
Namun, ketika tragedi terjadi, TIDAR Sulut memilih tidak menjauh.
Alih-alih berlindung di balik status sebagai sponsor, organisasi tersebut justru mengambil langkah kemanusiaan dengan ikut mendampingi korban dan keluarga yang terdampak.
Dukungan itu tidak berhenti pada ucapan belasungkawa.
TIDAR turut berkontribusi dalam memfasilitasi santunan yang kemudian diantarkan langsung ke rumah duka para korban yang meninggal dunia. Dukungan juga diberikan dalam persiapan tausyiah bagi keluarga yang tengah berduka.
Kepedulian serupa diberikan kepada korban luka berat yang harus menjalani perawatan dan dirujuk ke RSUP Prof. Dr. R.D. Kandou Manado.
Bersama panitia, TIDAR ikut memastikan keluarga korban mendapatkan fasilitasi dan pendampingan selama proses perawatan. Kehadiran tersebut menjadi bentuk solidaritas di saat keluarga sedang berada dalam kondisi paling sulit.
Ketua Panitia penyelenggara, Lucky Sugeha, turut mengakui dan mengapresiasi dukungan yang diberikan TIDAR Sulut.
Bagi keluarga korban, bantuan dalam situasi seperti ini bukan sekadar soal materi. Kehadiran, pendampingan dan perhatian menjadi kekuatan tersendiri ketika mereka harus menghadapi kenyataan kehilangan orang yang dicintai.
Tragedi di Upai pada akhirnya meninggalkan pelajaran pahit bahwa di balik setiap kegiatan dan keramaian, keselamatan manusia harus selalu menjadi yang utama.
Namun di tengah kepedihan itu pula, muncul solidaritas yang menunjukkan bahwa musibah tidak harus membuat semua pihak saling menjauh.
Ada tangan yang datang untuk membantu. Ada langkah yang dipilih untuk mendampingi. Dan ada kepedulian yang diberikan tanpa menunggu diminta.
TIDAR Sulut, melalui langkah pendampingan terhadap korban dan keluarga, memilih menunjukkan bahwa nilai kemanusiaan tidak berhenti pada peran administratif di atas kertas.
Kini, doa dan harapan terus dipanjatkan.
Semoga mereka yang telah berpulang mendapat tempat terbaik di sisi Tuhan Yang Maha Esa. Para korban yang masih menjalani perawatan diberikan kekuatan dan kesembuhan, sementara seluruh keluarga yang terdampak dianugerahi ketabahan untuk melewati masa duka yang berat ini.
Di Kelurahan Upai, luka itu mungkin membutuhkan waktu panjang untuk sembuh. Tetapi solidaritas dan kepedulian yang hadir di tengah duka setidaknya menjadi pengingat bahwa para korban dan keluarga mereka tidak berjalan sendirian.


