MANADO - Di bawah kepemimpinan Gubernur Mayjen TNI (Purn.) Yulius Selvanus, S.E. (YSK), program perumahan rakyat tak sekadar menyediakan atap melainkan menjadi mesin penggerak ekonomi masyarakat Sulawesi Utara.
Lonjakan pelaksanaan program Bedah Rumah tahun 2026 menjadi bukti nyata. Dari 747 unit tahun sebelumnya, jumlah melonjak tajam menjadi 10.800 unit naik 1.346%. Setiap unit dialokasikan anggaran Rp20 juta, dan dampaknya langsung terasa di tingkat akar rumput: 21.600 tenaga kerja lokal terserap bekerja di proyek tersebut.
Artinya, anggaran pembangunan tidak keluar daerah, melainkan berputar di sini masuk ke saku warga, berbelanja kebutuhan hidup, menggerakkan roda perekonomian desa dan kota.
Langkah Gubernur YSK tak berhenti pada penyerapan tenaga kerja. Melalui skema Kredit Program Perumahan (KPP), sebanyak 791 pelaku usaha toko bangunan, kontraktor, UMKM telah menerima permodalan. Sementara itu, realisasi 1.757 unit FLPP senilai Rp216 miliar menjaga arus uang tetap mengalir di sektor perumahan dan jasa terkait.
Pembangunan 44 unit Rusun MBR di Paniki, serta 81 unit fasilitas sanitasi, melengkapi ekosistem: warga sehat, tempat tinggal layak, dan sekaligus terbuka kesempatan berusaha.
“Kebijakan ini mengubah pola: bukan hanya memberi, tapi membuat masyarakat mampu berdiri sendiri. Setiap rupiah yang dikeluarkan, kembali bekerja untuk rakyat,” tegas sumber di lingkungan Pemprov Sulut.
Sinergi dengan Kementerian PKP, perbankan, dan pemerintah kabupaten/kota menjadi kunci. Hasilnya: pembangunan fisik beriringan dengan penguatan ekonomi keluarga fondasi kuat bagi kemajuan Sulawesi Utara.


