Postingan Populer

Total Tayangan Halaman

Iklan

PETI Diduga Rusak Sungai Paret, Ancaman Banjir dan Longsor Mengintai Warga Jelang Musim Hujan

Swara Manado News
Selasa, 13 Oktober 2026, 16:44 WIB Last Updated 2026-10-13T08:44:51Z


BOLTIM -
 Aktivitas Pertambangan Emas Tanpa Izin (PETI) yang diduga berlangsung masif di kawasan Sungai Paret, Kecamatan Kotabunan, Kabupaten Bolaang Mongondow Timur (Boltim), memicu kekhawatiran terhadap keselamatan warga. Pengerukan sungai menggunakan alat berat dan keberadaan lubang galian yang diperkirakan mencapai kedalaman lebih dari 10 meter dinilai perlu segera diperiksa, karena berpotensi memengaruhi kestabilan tanah, kondisi aliran sungai, serta meningkatkan risiko banjir dan longsor saat hujan deras.


Berdasarkan data informasi, aktivitas pengerukan terlihat berlangsung di badan Sungai Paret dan kawasan sekitarnya. Puluhan unit excavator dilaporkan beroperasi di lokasi, meninggalkan lubang-lubang galian berukuran besar, termasuk di sekitar jalur atau badan jalan.


Kondisi tersebut menimbulkan kekhawatiran terhadap keselamatan pengguna jalan dan masyarakat yang tinggal di sekitar kawasan sungai. Besarnya risiko banjir dan longsor masih memerlukan kajian teknis dari instansi berwenang, terutama untuk mengetahui dampak aktivitas pengerukan terhadap aliran air dan kestabilan tanah menjelang musim penghujan.


Penggunaan alat berat dalam jumlah besar juga memunculkan pertanyaan mengenai skala kegiatan pertambangan di lokasi tersebut. Dugaan keterlibatan investor serta legalitas aktivitas PETI perlu ditelusuri lebih lanjut oleh pemerintah dan aparat penegak hukum.


Pemeriksaan diperlukan untuk memastikan pihak yang bertanggung jawab, status perizinan, serta kepatuhan terhadap ketentuan pertambangan dan perlindungan lingkungan. Apabila ditemukan pelanggaran, penindakan harus dilakukan sesuai ketentuan hukum yang berlaku.


Pemerintah Kabupaten Bolaang Mongondow Timur disebut telah melakukan peninjauan lapangan pada pekan sebelumnya. Namun, tindak lanjut atas kondisi di kawasan Sungai Paret masih menjadi perhatian masyarakat.


Pemerintah daerah bersama Pemerintah Provinsi Sulawesi Utara, instansi lingkungan hidup, Balai Wilayah Sungai Sulawesi I, dan aparat penegak hukum diharapkan memperkuat pengawasan serta melakukan langkah penanganan sesuai kewenangan masing-masing.


Pemetaan titik rawan, pemeriksaan kondisi sungai, penilaian kestabilan tanah, dan penyusunan langkah mitigasi bencana menjadi hal yang perlu diprioritaskan. Masyarakat juga membutuhkan informasi terbuka mengenai hasil peninjauan pemerintah dan langkah konkret yang akan dilakukan untuk mengantisipasi potensi bahaya.


Kekhawatiran terhadap kondisi Desa Paret turut disampaikan Jull, warga Manado yang lahir di desa tersebut. Ia menyatakan keprihatinannya terhadap potensi kerusakan lingkungan di kampung halamannya akibat aktivitas pertambangan yang dikhawatirkan tidak terkendali.


Menurutnya, persoalan ini bukan hanya menyangkut aktivitas ekonomi, tetapi juga keselamatan masyarakat dan keberlanjutan lingkungan bagi generasi mendatang. Ia berharap pemerintah segera mengambil langkah nyata untuk mencegah kerusakan semakin meluas.


Penanganan aktivitas PETI di Sungai Paret kini menjadi perhatian penting menjelang musim penghujan. Pemeriksaan teknis, pengawasan berkelanjutan, dan penegakan hukum apabila ditemukan pelanggaran diperlukan untuk memastikan keselamatan warga serta kelestarian lingkungan tetap menjadi prioritas.

(**)

👁️ Dilihat: hitwebcounter.com/
Komentar
Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE. #JernihBerkomentar
  • PETI Diduga Rusak Sungai Paret, Ancaman Banjir dan Longsor Mengintai Warga Jelang Musim Hujan

Terkini

Iklan